Sasake Banggai Kepulauan Gegerkan Sulteng, Ibu Pasca Melahirkan Ditandu 10 Km Karena Ambulans Tak Bisa Masuk
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 57
- comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu pasca melahirkan harus ditandu sejauh kurang lebih 10 kilometer melewati jalan setapak di wilayah Sasake, Desa Seano, Kecamatan Buko Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, menggegerkan Sulawesi Tengah. Video tersebut viral di media sosial dan memantik perhatian luas dari masyarakat hingga pemerintah daerah.
Respons cepat pun datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Sehari setelah video itu ramai diperbincangkan, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah langsung turun ke lokasi pada 11 Juni 2026 untuk melakukan survei dan pengukuran akses jalan yang selama ini menjadi keluhan warga.
Pengunggah pertama video tersebut, Edi Yunggoli, warga Desa Seano yang juga menjabat Sekretaris Desa, mengungkapkan bahwa peristiwa dalam video sebenarnya terjadi sekitar satu tahun lalu.
Menurut Edi, saat itu seorang ibu melahirkan dengan bantuan secara tradisional di kawasan Sasake. Namun setelah proses persalinan, ari-arinya tidak keluar sehingga membutuhkan penanganan medis secepatnya di fasilitas kesehatan.
“Waktu itu seorang ibu melahirkan ditolong secara tradisional. Tetapi ari-arinya tidak keluar sehingga harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Karena ambulans tidak bisa masuk akibat akses jalan hanya berupa jalan setapak dan jalan rintisan, warga akhirnya bergotong royong memikul ibu tersebut menggunakan tandu,” ujar Edi kepada Simbil.
Perjalanan yang harus ditempuh tidaklah mudah. Warga bergantian memikul tandu melewati medan yang berat dan jalan yang sebagian besar telah rusak. Setelah menempuh jarak sekitar 10 kilometer, barulah mereka tiba di jalan poros yang dapat diakses kendaraan roda empat untuk selanjutnya membawa ibu tersebut menuju fasilitas kesehatan.
Edi mengaku baru menerima video tersebut beberapa waktu lalu dari seorang warga yang kebetulan merekam kejadian saat berpapasan di perjalanan. Selama ini, banyak peristiwa serupa yang tidak pernah terdokumentasi karena keterbatasan akses teknologi di wilayah pelosok.
“Video itu baru saya dapat belum lama ini. Padahal kejadian seperti itu bukan sekali saja terjadi. Banyak yang tidak terdokumentasi karena warga di Sasake sangat terbatas akses teknologinya,” katanya.
Sasake merupakan komunitas masyarakat yang terpisah dari pusat Desa Seano. Sekitar 100 jiwa tinggal di wilayah tersebut dengan akses utama berupa jalan setapak dan jalan rintisan yang kondisinya memprihatinkan. Untuk mencapai jalan poros terdekat, warga harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 10 kilometer.
Viralnya video tersebut akhirnya membuka mata banyak pihak mengenai kondisi akses transportasi yang selama ini dihadapi masyarakat Sasake. Edi pun menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang langsung mengirim tim ke lokasi.
“Kami mengapresiasi reaksi cepat Pemprov Sulawesi Tengah melalui Dinas Bina Marga. Sehari setelah video viral, tepat pada 11 Juni, tim langsung turun melakukan pengecekan lapangan,” ujarnya.
Atas nama pemerintah desa dan masyarakat Sasake, Edi juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, beserta jajaran pemerintah provinsi yang telah memberikan perhatian terhadap kondisi warga di pelosok Banggai Kepulauan.
“Kami pemerintah desa mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Anwar Hafid dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang telah mengatensi suara hati masyarakat Sasake. Terima kasih juga kepada seluruh penggiat media yang telah membantu menyuarakan aspirasi warga. Kami berharap segera ada solusi permanen berupa pembangunan jalan yang layak,” tuturnya.
Kisah dari Sasake menjadi gambaran nyata bahwa infrastruktur bukan sekadar sarana penghubung antarwilayah. Bagi masyarakat pelosok, jalan yang layak dapat menjadi penentu cepat atau lambatnya pertolongan medis, bahkan menyangkut keselamatan jiwa.
Video yang viral itu mungkin hanya berdurasi beberapa menit, namun di baliknya tersimpan perjuangan panjang masyarakat Sasake yang selama bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan akses. Kini, mereka berharap perhatian yang datang tidak berhenti pada survei, tetapi berlanjut menjadi solusi nyata bagi masa depan wilayah mereka.
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id
- Sumber: Irwanto Diasa (Simbil)

Saat ini belum ada komentar