Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » KESEHATAN » Sasake Banggai Kepulauan Gegerkan Sulteng, Ibu Pasca Melahirkan Ditandu 10 Km Karena Ambulans Tak Bisa Masuk

Sasake Banggai Kepulauan Gegerkan Sulteng, Ibu Pasca Melahirkan Ditandu 10 Km Karena Ambulans Tak Bisa Masuk

  • calendar_month Jum, 12 Jun 2026
  • visibility 133
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.idSebuah video yang memperlihatkan seorang ibu pasca melahirkan harus ditandu sejauh kurang lebih 10 kilometer melewati jalan setapak di wilayah Sasake, Desa Seano, Kecamatan Buko Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, menggegerkan Sulawesi Tengah. Video tersebut viral di media sosial dan memantik perhatian luas dari masyarakat hingga pemerintah daerah.

Respons cepat pun datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Sehari setelah video itu ramai diperbincangkan, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah langsung turun ke lokasi pada 11 Juni 2026 untuk melakukan survei dan pengukuran akses jalan yang selama ini menjadi keluhan warga.

Pengunggah pertama video tersebut, Edi Yunggoli, warga Desa Seano yang juga menjabat Sekretaris Desa, mengungkapkan bahwa peristiwa dalam video sebenarnya terjadi sekitar satu tahun lalu.

Menurut Edi, saat itu seorang ibu melahirkan dengan bantuan secara tradisional di kawasan Sasake. Namun setelah proses persalinan, ari-arinya tidak keluar sehingga membutuhkan penanganan medis secepatnya di fasilitas kesehatan.

“Waktu itu seorang ibu melahirkan ditolong secara tradisional. Tetapi ari-arinya tidak keluar sehingga harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Karena ambulans tidak bisa masuk akibat akses jalan hanya berupa jalan setapak dan jalan rintisan, warga akhirnya bergotong royong memikul ibu tersebut menggunakan tandu,” ujar Edi kepada Simbil.

Perjalanan yang harus ditempuh tidaklah mudah. Warga bergantian memikul tandu melewati medan yang berat dan jalan yang sebagian besar telah rusak. Setelah menempuh jarak sekitar 10 kilometer, barulah mereka tiba di jalan poros yang dapat diakses kendaraan roda empat untuk selanjutnya membawa ibu tersebut menuju fasilitas kesehatan.

Edi mengaku baru menerima video tersebut beberapa waktu lalu dari seorang warga yang kebetulan merekam kejadian saat berpapasan di perjalanan. Selama ini, banyak peristiwa serupa yang tidak pernah terdokumentasi karena keterbatasan akses teknologi di wilayah pelosok.

“Video itu baru saya dapat belum lama ini. Padahal kejadian seperti itu bukan sekali saja terjadi. Banyak yang tidak terdokumentasi karena warga di Sasake sangat terbatas akses teknologinya,” katanya.

Sasake merupakan komunitas masyarakat yang terpisah dari pusat Desa Seano. Sekitar 100 jiwa tinggal di wilayah tersebut dengan akses utama berupa jalan setapak dan jalan rintisan yang kondisinya memprihatinkan. Untuk mencapai jalan poros terdekat, warga harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 10 kilometer.

Viralnya video tersebut akhirnya membuka mata banyak pihak mengenai kondisi akses transportasi yang selama ini dihadapi masyarakat Sasake. Edi pun menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang langsung mengirim tim ke lokasi.

“Kami mengapresiasi reaksi cepat Pemprov Sulawesi Tengah melalui Dinas Bina Marga. Sehari setelah video viral, tepat pada 11 Juni, tim langsung turun melakukan pengecekan lapangan,” ujarnya.

Atas nama pemerintah desa dan masyarakat Sasake, Edi juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, beserta jajaran pemerintah provinsi yang telah memberikan perhatian terhadap kondisi warga di pelosok Banggai Kepulauan.

“Kami pemerintah desa mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Anwar Hafid dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang telah mengatensi suara hati masyarakat Sasake. Terima kasih juga kepada seluruh penggiat media yang telah membantu menyuarakan aspirasi warga. Kami berharap segera ada solusi permanen berupa pembangunan jalan yang layak,” tuturnya.

Kisah dari Sasake menjadi gambaran nyata bahwa infrastruktur bukan sekadar sarana penghubung antarwilayah. Bagi masyarakat pelosok, jalan yang layak dapat menjadi penentu cepat atau lambatnya pertolongan medis, bahkan menyangkut keselamatan jiwa.

Video yang viral itu mungkin hanya berdurasi beberapa menit, namun di baliknya tersimpan perjuangan panjang masyarakat Sasake yang selama bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan akses. Kini, mereka berharap perhatian yang datang tidak berhenti pada survei, tetapi berlanjut menjadi solusi nyata bagi masa depan wilayah mereka.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TATA CARA PENYAMPAIAN PENGADUAN KE KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

    TATA CARA PENYAMPAIAN PENGADUAN KE KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • visibility 871
    • 0Komentar

    Dalam rangka mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi serta agar setiap pengaduan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara efektif oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kami sampaikan kepada masyarakat hal-hal sebagai berikut: 📝 Persyaratan Pengaduan Setiap pengaduan yang disampaikan kepada KPK wajib dilengkapi dengan data dan dokumen yang mengindikasikan adanya tindak pidana korupsi, antara lain: Kronologis kasus yang […]

  • Misteri Kematian Adik Naya, Polres Bangkep Lakukan Autopsi Forensik Usai Ekshumasi

    Misteri Kematian Adik Naya, Polres Bangkep Lakukan Autopsi Forensik Usai Ekshumasi

    • calendar_month Jum, 13 Jun 2025
    • visibility 1.181
    • 0Komentar

    BANGGAI LAUT, tatandai.id — Upaya pengungkapan kasus kematian Hijrah Adriani alias Naya (5), anak perempuan asal Banggai Kepulauan yang ditemukan meninggal secara misterius pada awal Februari 2025, kembali dilanjutkan oleh pihak kepolisian. Jumat (13/6/2025), Polres Banggai Kepulauan melakukan proses ekshumasi atau pembongkaran makam untuk melaksanakan autopsi forensik pertama terhadap jenazah Naya, guna mengungkap penyebab pasti […]

  • Muhammad Saleh Gasin: Kasus PPPK Bangkep Bukti Ada yang “Kebal Hukum” di Daerah

    Muhammad Saleh Gasin: Kasus PPPK Bangkep Bukti Ada yang “Kebal Hukum” di Daerah

    • calendar_month Sab, 18 Okt 2025
    • visibility 1.376
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Kasus dugaan pemalsuan dokumen PPPK di lingkungan BPBD Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menjadi perhatian publik setelah muncul sejumlah kejanggalan dalam proses penegakan hukumnya. Di balik jalannya persidangan yang kini sudah berlangsung di Pengadilan Negeri Luwuk, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana perkara ini sempat mandek, bolak-balik antara Polres Bangkep dan Kejaksaan Negeri […]

  • Aksi IPBK Berbuah Sikap DPRD: Karst Banggai Kepulauan Tak Boleh Dikorbankan

    Aksi IPBK Berbuah Sikap DPRD: Karst Banggai Kepulauan Tak Boleh Dikorbankan

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • visibility 390
    • 0Komentar

    PALU, tatandak.id – Aksi demonstrasi Ikatan Pemuda Banggai Kepulauan (IPBK) Palu, Sulawesi Tengah, terhadap aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan mulai membuahkan hasil. Suara penolakan yang disampaikan mahasiswa dan pemuda Banggai Kepulauan di depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tengah mendapat respons serius melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Sulteng pada 28 […]

  • Abdul Jalil Mangalia: Tambang Batu Gamping di Bangkep Jangan Sampai Mengorbankan Pemilik Lahan

    Abdul Jalil Mangalia: Tambang Batu Gamping di Bangkep Jangan Sampai Mengorbankan Pemilik Lahan

    • calendar_month Sel, 28 Apr 2026
    • visibility 117
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Tokoh masyarakat Desa Kambani, Abdul Jalil Mangalia, menyampaikan pandangan dan sikapnya terkait rencana maupun wacana aktivitas tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan, khususnya di wilayah yang memiliki potensi pertambangan. Abdul Jalil Mangalia yang juga merupakan mantan Kepala Desa Kambani, Kecamatan Buko Selatan, menegaskan bahwa prinsip utama yang harus dijaga dalam pengelolaan […]

  • Pembangunan Sanggar Seni Desa Alakasing Dipertanyakan Warga, Pemdes Sebut Terkendala PMK 81

    Pembangunan Sanggar Seni Desa Alakasing Dipertanyakan Warga, Pemdes Sebut Terkendala PMK 81

    • calendar_month Ming, 28 Des 2025
    • visibility 302
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Pembangunan Gedung Sanggar Seni di Desa Alakasing, Kecamatan Peling Tengah, Kabupaten Banggai Kepulauan, menuai sorotan dan tanda tanya dari masyarakat. Proyek yang bersumber dari Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025 tersebut dinilai tidak hanya mengalami keterlambatan, tetapi juga dipertanyakan urgensi serta perencanaannya. Pantauan di lokasi menunjukkan bangunan sanggar seni masih berada pada […]

error: Content is protected !!
expand_less