Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » EDUKASI » Jangka Waktu Penahanan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Jangka Waktu Penahanan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

  • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
  • visibility 5.236
  • comment 2 komentar

Ditulis Oleh: RIZKAWATI GASIN, S.H.

Dalam sistem hukum di Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengatur prosedur penahanan seseorang yang berstatus sebagai tersangka atau terdakwa. Berdasarkan KUHAP, jangka waktu penahanan dapat berlangsung mulai dari tahap penyidikan hingga upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia, dengan durasi maksimal 400 hari. Namun, dalam keadaan tertentu, jangka waktu ini dapat diperpanjang hingga mencapai 700 hari. Artikel ini akan menjelaskan secara rinci ketentuan penahanan tersebut, termasuk perbedaan antara penahanan dan penjara, serta jangka waktu pada setiap tahapan proses hukum.

Sebelum membahas lebih lanjut, penting untuk memahami perbedaan antara “penahanan” dan “penjara”, karena kedua istilah ini sering disalahpahami. Penahanan adalah tindakan penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu selama proses pemeriksaan perkara berlangsung. Tujuannya adalah untuk memastikan kelancaran proses hukum, seperti mencegah tersangka melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi tindak pidana.

Sebaliknya, penjara merujuk pada sanksi pidana yang dijatuhkan oleh pengadilan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Dengan kata lain, penahanan bersifat sementara dan terkait proses pemeriksaan, sedangkan penjara adalah hukuman setelah vonis bersalah.

KUHAP mengatur jangka waktu penahanan pada setiap tahap proses hukum, mulai dari penyidikan hingga kasasi. Berikut adalah rinciannya:

  1. Tahap Penyidikan (Pasal 24 KUHAP)
    Pada tahap ini, penyidik dapat menahan tersangka selama maksimal 60 hari untuk keperluan pemeriksaan. Penahanan ini dilakukan jika terdapat kekhawatiran bahwa tersangka akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi tindak pidana.
  2. Tahap Penuntutan (Pasal 25 KUHAP)
    Setelah penyidikan selesai dan perkara dilimpahkan ke penuntut umum, penahanan dapat dilanjutkan selama maksimal 50 hari. Penuntut umum bertugas memeriksa berkas perkara dan menyusun surat dakwaan untuk diajukan ke pengadilan.
  3. Tahap Pemeriksaan di Pengadilan Negeri (Pasal 26 KUHAP)
    Ketika perkara telah didaftarkan di Pengadilan Negeri, terdakwa dapat ditahan selama maksimal 90 hari selama proses persidangan berlangsung.
  4. Tahap Banding di Pengadilan Tinggi (Pasal 27 KUHAP)
    Jika terdakwa atau penuntut umum tidak menerima putusan Pengadilan Negeri, mereka dapat mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi. Pada tahap ini, penahanan dapat berlangsung selama maksimal 90 hari.
  5. Tahap Kasasi di Mahkamah Agung (Pasal 28 KUHAP)
    Apabila putusan banding masih tidak diterima, terdakwa atau penuntut umum dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Penahanan pada tahap ini dapat berlangsung selama maksimal 110 hari.

Jika dijumlahkan, jangka waktu penahanan sejak tahap penyidikan hingga kasasi adalah 400 hari.

Dalam kondisi tertentu, jangka waktu penahanan dapat diperpanjang hingga total maksimal 700 hari. Perpanjangan ini diatur dalam Pasal 29 ayat (1) KUHAP, yang menyatakan bahwa penahanan dapat diperpanjang demi kepentingan pemeriksaan, misalnya:

  • Tersangka atau terdakwa menderita gangguan fisik atau mental berat yang memengaruhi proses pemeriksaan.

  • Perkara yang sedang diperiksa diancam dengan pidana penjara 9 tahun atau lebih.

Dalam kasus seperti ini, penahanan dapat diperpanjang masing-masing 30 hari pada setiap tahap pemeriksaan, dan dapat ditambah lagi 30 hari jika masih diperlukan. Berikut rincian jangka waktu penahanan dalam keadaan tertentu:

  • Tahap Penyidikan: 60 hari (normal) + 30 hari + 30 hari = 120 hari
  • Tahap Penuntutan: 50 hari (normal) + 30 hari + 30 hari = 110 hari
  • Tahap Pemeriksaan di Pengadilan Negeri: 90 hari (normal) + 30 hari + 30 hari = 150 hari
  • Tahap Banding di Pengadilan Tinggi: 90 hari (normal) + 30 hari + 30 hari = 150 hari
  • Tahap Kasasi di Mahkamah Agung: 110 hari (normal) + 30 hari + 30 hari = 170 hari

Jika ditotal, jangka waktu penahanan dalam keadaan tertentu dapat mencapai 700 hari.

Jangka waktu penahanan yang disebutkan di atas adalah batas maksimal. Dalam praktiknya, durasi penahanan bisa lebih singkat, tergantung pada kebutuhan dan perkembangan pemeriksaan pada setiap tahap. Penahanan hanya dilakukan jika memenuhi syarat-syarat tertentu yang diatur dalam KUHAP, seperti adanya risiko tersangka atau terdakwa melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi tindak pidana.

Jangka waktu penahanan menurut KUHAP dirancang untuk menyeimbangkan kepentingan pemeriksaan perkara dengan perlindungan hak asasi manusia. Secara umum, seseorang dapat ditahan selama maksimal 400 hari sejak tahap penyidikan hingga kasasi. Namun, dalam keadaan tertentu, seperti ancaman pidana berat atau kondisi khusus tersangka/terdakwa, penahanan dapat diperpanjang hingga 700 hari. Pemahaman tentang ketentuan ini penting agar masyarakat mengetahui hak dan kewajiban mereka dalam proses hukum.

Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bahan edukasi dan memberikan gambaran yang jelas tentang jangka waktu penahanan berdasarkan KUHAP.

  • Penulis: Rizkawati Gasin, S.H.
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (2)

  • Munira

    Dalam penahanan bisa melakukan penangguhan penahanan, apa saja syarat syarat penangguhan penahanan

    Balas31 Mei 2025 2:00 am
    • Tatandak Id

      Ya boleh

      Mengajukan permohonan (lisan atau tertulis) melalui diri sendiri, penasihat hukum, atau keluarga kepada penyidik, penuntut umum, maupun hakim, serta bersedia mematuhi kewajiban yang ditentukan.

      Balas1 Juni 2025 8:30 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SELAMAT ULANG TAHUN, IRWANTO DIASA (SIMBIL)!

    SELAMAT ULANG TAHUN, IRWANTO DIASA (SIMBIL)!

    • calendar_month Kam, 22 Okt 2026
    • visibility 124
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID (22/10/2026) – Merawat Gagasan, Menjaga Nurani, Menghidupkan Harapan. Ada orang yang hadir sekadar menjadi bagian dari perjalanan waktu. Ada pula yang memilih menjadikan perjalanan hidupnya sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan, merawat kepedulian, dan memperjuangkan hal-hal yang diyakininya penting bagi masyarakat. Irwanto Diasa, yang akrab disapa Simbil, adalah salah satu figur yang mewarnai ruang publik […]

  • Maraden Arwen Yalume Tolak Tambang Gamping di Pandaluk: “Ini Sama Saja Menggali Kuburan Hidup bagi Warga”

    Maraden Arwen Yalume Tolak Tambang Gamping di Pandaluk: “Ini Sama Saja Menggali Kuburan Hidup bagi Warga”

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • visibility 1.410
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Rencana aktivitas tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan, khususnya di kawasan wilayah Desa Pandaluk, Kecamatan Bulagi Selatan, menuai penolakan keras dari masyarakat setempat. Pernyataan sikap tersebut disampaikan oleh Maraden Arwen Yalume, Tokoh Masyarakat sekaligus Kepala Desa Pandaluk. Ia menegaskan bahwa masyarakat Desa Pandaluk menolak rencana pelaksanaan tambang gamping karena dinilai […]

  • Kematian Ibu Guru Farida Usai Persalinan di RSUD Trikora Salakan Sisakan Banyak Pertanyaan

    Kematian Ibu Guru Farida Usai Persalinan di RSUD Trikora Salakan Sisakan Banyak Pertanyaan

    • calendar_month Kam, 16 Apr 2026
    • visibility 1.011
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Kematian Ibu Guru Farida, perempuan 27 tahun asal Desa Manggalai, Kecamatan Tinangkung, usai menjalani persalinan di RSUD Trikora Salakan, menyisakan banyak pertanyaan serius yang hingga kini belum terjawab terang. Pihak keluarga telah melaporkan peristiwa itu ke Polres Banggai Kepulauan. Di sisi lain, manajemen RSUD Trikora Salakan telah mengeluarkan rilis klarifikasi resmi yang menegaskan […]

  • Muhammad Saleh Gasin Soroti BBM di Bangkep: “Kalau Aturan Ada, Aparat Ada, Kenapa Masalah Ini Seperti Dibiarkan?”

    Muhammad Saleh Gasin Soroti BBM di Bangkep: “Kalau Aturan Ada, Aparat Ada, Kenapa Masalah Ini Seperti Dibiarkan?”

    • calendar_month Sab, 28 Mar 2026
    • visibility 725
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Persoalan BBM di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menjadi sorotan. Di tengah keluhan masyarakat yang terus berulang, muncul satu pertanyaan besar yang mulai hidup di ruang publik yakni “mengapa masalah ini seperti tidak pernah benar-benar disentuh sampai ke akarnya?” Advokat dan pegiat sosial yang fokus pada gerakan akses keadilan dan kontrol sosial […]

  • Polsek Liang dan Koramil 1308-11 Gelar Bakti Sosial di Desa Tunggaling, Warga Antusias dan Terharu

    Polsek Liang dan Koramil 1308-11 Gelar Bakti Sosial di Desa Tunggaling, Warga Antusias dan Terharu

    • calendar_month Jum, 20 Jun 2025
    • visibility 549
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-79, Polsek Liang bersama Pos Patukuki dan personel Koramil 1308-11 Liang menggelar kegiatan bakti sosial di Desa Tunggaling, Kecamatan Peling Tengah, Kabupaten Banggai Kepulauan, Jumat (20/06/2025). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Liang, I Wayan Sukarman, S.H, dan turut melibatkan sejumlah personel dari Polsek […]

  • MENJAGA LAUT DENGAN AIR MATA: KETIKA POPIDOLON BERSEPAKAT KARENA NEGARA TERLELAP

    MENJAGA LAUT DENGAN AIR MATA: KETIKA POPIDOLON BERSEPAKAT KARENA NEGARA TERLELAP

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2026
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Penulis: Gusti Farel Ketua KOMPAK Renjala Teluk Kembar, Desa Popidolon, Kecamatan Liang Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Di saat para pejabat tinggi sibuk berpidato megah tentang kejayaan maritim dan poros laut di panggung-pajang nasional, di perairan Kecamatan Liang, para nelayan kecil dan penggiat konservasi harus bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang ledakan bom ikan yang menghancurkan […]

error: Content is protected !!
expand_less