Muh. Nial Setiawan: Antara Rasa Lapar dan Kehormatan, Ketika Harga Diri Lebih Mahal daripada Sepiring Nasi
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar

Rasa lapar memaksaku harus keluar untuk sekedar membeli jajan buat sarapan, Kamis tgl 22 Oktober 2026.
Nek nasi kuning satu. Berapa satu bungkus Nek? Masi sama? Iya 5000 Kata Nenek. Saya dua kata ku.
Sebelum sempat nenek membungkus kan, terlihat berjalan dengan pakaian agak lusuh seorang pria, dengan gaya berjalan dan pakaiannya menimbulkan rasa iba
melihatnya, Pak singgah sebentar mau dibungkus kan? Jangan, jangan, jangan merepotkan, sambil terus berjalan tanpa berhenti dan tanpa menoleh sedikitpun.
Dia berlalu sambil merasa malu karna dilihat beberapa orang yang juga membeli, saya terus berfikir, masih ada banyak orang yang terlihat susah kehidupannya tapi memiliki kehormatan tinggi untuk tidak meminta-minta atau bahkan makan dari belas kasih dari orang lain atau bahkan MENCURI!!! Mereka masih punya rasa malu.
Mereka menjaga kehormatan mereka lebih tinggi dari rasa lapar yang dirasakan, padahal bisa saja dia berkata, “iya dek saya belum makan” saya pasti akan membelikannya sekalian dengan untuk dimakannya siang hari. Tapi dia tidak berkata seperti yang saya inginkan.
Terkadang kita terlalu sering menilai orang dari pakaiannya dari kondisi fisiknya, dari kebersihan tubuhnya, padahal kita tidak tau seberapa besar kehormatan dan rasa tanggung jawab yang dia miliki. Karena pasti dari kondisinya orang-orang tersebut ada perjuangan keras yang mereka lakukan, demi untuk terlihat “kotor”.
Demi diri mereka, demi orang-orang yang ada dibelakang mereka, dan demi kehormatan mereka
Bagaimana dengan para PEJABAT DI Negeri Dongeng INI??????? Anda tau jawabannya lahhhh
- Penulis: Muh. Nial Setiawan
- Editor: Muh. Nial Setiawan

Saat ini belum ada komentar