Indra Adi Putra Salam: “Cara Mendapatkan Hasil Tanpa Mengambil Isinya” Jadi Kunci Masa Depan Konservasi Laut Banggai Kepulauan
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 136
- comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Konservasi tidak selalu berarti larangan mengambil manfaat dari alam. Justru sebaliknya, konservasi yang berhasil adalah ketika masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan tanpa merusak sumber daya yang menjadi penopangnya. Gagasan inilah yang disampaikan oleh pemerhati lingkungan dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), Indra Adi Putra Salam, saat berbicara mengenai perkembangan konservasi berbasis masyarakat di kawasan KKPD Banggai Area XII (B), Kabupaten Banggai Kepulauan.
Menurut Indra, konsep konservasi yang ideal adalah menjaga ekosistem sebagai “tabungan masa depan”, sementara masyarakat memanfaatkan hasil yang dihasilkan ekosistem tersebut secara berkelanjutan.
“Konservasi pada dasarnya adalah perlindungan. Dalam konteks laut, kita menjaga ekosistemnya sebagai tabungan, sementara yang kita manfaatkan adalah bunganya. Pertanyaannya adalah bagaimana mendapatkan hasil tanpa mengambil isinya. Di situlah esensi konservasi,” ujar Indra.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah desa di Banggai Kepulauan mulai menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan model konservasi yang hidup dan dijalankan langsung oleh masyarakat. Desa Tangkop, misalnya, mengembangkan konsep Bank Ikan, sementara Desa Mamulusan menerapkan sistem buka-tutup penangkapan gurita. Pola serupa juga mulai diterapkan di Desa Kindandal dan Desa Tomboniki.
Meski menghadapi berbagai tantangan, program tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Masyarakat Desa Tangkop kini tidak lagi harus melaut jauh ketika membutuhkan ikan untuk keperluan adat maupun kegiatan sosial masyarakat. Di Desa Mamulusan, nelayan juga mulai merasakan peningkatan hasil tangkapan di sekitar wilayah desa.
Salah satu nelayan yang aktif mendukung konservasi berbasis masyarakat adalah Avtrisno. Jika sebelumnya ia harus melaut hingga sekitar empat mil dari pesisir desa untuk mendapatkan ikan, kini ia cukup memancing kurang dari satu mil dari kampungnya.
Dalam satu kesempatan, Avtrisno berhasil memperoleh sekitar 30 kilogram ikan kuwe atau bubara hanya dalam waktu lima jam. Dengan harga jual rata-rata Rp35 ribu per kilogram, hasil tangkapannya mencapai sekitar Rp1,05 juta dengan biaya operasional yang relatif kecil, hanya membutuhkan dua hingga tiga liter bahan bakar.
Nelayan lainnya, Hobni, bahkan pernah memperoleh hingga 50 kilogram ikan dalam satu malam dengan nilai ekonomi lebih dari Rp2 juta.
Fenomena melimpahnya ikan bubara di sekitar perairan Desa Mamulusan mulai dirasakan sejak Oktober 2025. Saat itu, seorang pemuda desa bernama Ariatno Siolan atau Angga kerap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah di sekitar kampung menggunakan joran pancing. Kabar tersebut kemudian menyebar dan mendorong semakin banyak nelayan memanfaatkan perairan sekitar desa.
Indra menilai kondisi tersebut menjadi indikator bahwa perlindungan kawasan pesisir dan laut mulai memberikan dampak positif terhadap pemulihan stok ikan.
“Ketika ekosistem terumbu karang dan kawasan pesisir dijaga, ikan akan kembali. Ketika ikan kembali, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Di situlah hubungan timbal balik antara manusia dan alam terbentuk,” katanya.
Tokoh masyarakat Desa Mamulusan, Lot Frans, mengingat kembali situasi beberapa tahun lalu ketika praktik pengeboman ikan masih marak terjadi di sekitar desa.
Menurutnya, ledakan bom ikan bisa terdengar berkali-kali dalam sehari. Ia bahkan menggambarkan situasi saat itu seperti medan perang karena aktivitas destructive fishing berlangsung hampir setiap hari.
Kondisi tersebut perlahan berubah setelah masyarakat mulai memahami pentingnya menjaga ekosistem laut. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan organisasi konservasi, mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif untuk melindungi wilayah pesisir.
Data pemantauan hasil pendaratan ikan dan biomassa ikan karang yang dilakukan Burung Indonesia pada periode 2023 hingga awal 2026 turut menunjukkan indikasi pemulihan sumber daya perikanan di kawasan tersebut.
Meski demikian, ancaman masih terus ada. Praktik penangkapan ikan menggunakan bius maupun panah dengan bantuan kompresor masih sesekali terjadi dan memicu konflik dengan nelayan yang mendukung pengelolaan berkelanjutan.
Karena itu, masyarakat berharap adanya dukungan yang lebih kuat dalam penegakan hukum terhadap pelaku destructive fishing dan illegal fishing agar upaya konservasi yang telah dibangun tidak kembali rusak.
Selain menyoroti keberhasilan Tangkop dan Mamulusan, Indra juga melihat potensi besar yang dimiliki Desa Popidolon untuk berkembang sebagai destinasi wisata bahari berbasis konservasi.
Menurutnya, Popidolon memiliki kombinasi ekosistem yang sangat menarik, mulai dari laguna, pulau-pulau kecil tempat singgah burung migrasi, kawasan mangrove, hingga hamparan terumbu karang yang berpotensi menjadi lokasi snorkeling dan wisata alam.
Di kawasan tersebut juga terdapat berbagai satwa laut yang memiliki nilai konservasi tinggi, seperti pari manta, hiu paus, guitarfish, hiu berjalan, serta schooling ikan bubara yang menjadi daya tarik tersendiri.
“Popidolon memiliki modal alam yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menjaga dan memulihkannya terlebih dahulu. Bank Ikan menjadi langkah awal, kemudian rehabilitasi terumbu karang, dan setelah itu pengembangan wisata berbasis alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelas Indra.
Ia menambahkan, letak Popidolon yang relatif dekat dengan Kota Salakan menjadi keuntungan tersendiri dalam pengembangan wisata berkelanjutan. Dengan akses yang mudah, desa tersebut berpeluang menjadi salah satu pintu gerbang wisata bahari di Kecamatan Liang bahkan Banggai Kepulauan secara umum.
Bagi Indra, pengalaman di Tangkop, Mamulusan, hingga Popidolon menunjukkan satu pelajaran penting: konservasi akan lebih mudah diterima dan dijaga ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.
Karena itu, pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat harus selalu dihubungkan dengan peningkatan kesejahteraan warga melalui perikanan berkelanjutan, rehabilitasi ekosistem, maupun pengembangan wisata alam.
“Alam yang sehat akan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari lingkungan yang terjaga, maka mereka akan menjadi garda terdepan dalam melindunginya. Itulah makna sesungguhnya dari pertanyaan yang kami diskusikan bersama masyarakat: bagaimana mendapatkan hasil tanpa mengambil isinya,” tutup Indra Adi Putra Salam.
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id
- Sumber: Indra Adi Putra Salam

Saat ini belum ada komentar