Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » LINGKUNGAN » Indra Adi Putra Salam: “Cara Mendapatkan Hasil Tanpa Mengambil Isinya” Jadi Kunci Masa Depan Konservasi Laut Banggai Kepulauan

Indra Adi Putra Salam: “Cara Mendapatkan Hasil Tanpa Mengambil Isinya” Jadi Kunci Masa Depan Konservasi Laut Banggai Kepulauan

  • calendar_month Jum, 29 Mei 2026
  • visibility 377
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Konservasi tidak selalu berarti larangan mengambil manfaat dari alam. Justru sebaliknya, konservasi yang berhasil adalah ketika masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan tanpa merusak sumber daya yang menjadi penopangnya. Gagasan inilah yang disampaikan oleh pemerhati lingkungan dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), Indra Adi Putra Salam, saat berbicara mengenai perkembangan konservasi berbasis masyarakat di kawasan KKPD Banggai Area XII (B), Kabupaten Banggai Kepulauan.

Menurut Indra, konsep konservasi yang ideal adalah menjaga ekosistem sebagai “tabungan masa depan”, sementara masyarakat memanfaatkan hasil yang dihasilkan ekosistem tersebut secara berkelanjutan.

“Konservasi pada dasarnya adalah perlindungan. Dalam konteks laut, kita menjaga ekosistemnya sebagai tabungan, sementara yang kita manfaatkan adalah bunganya. Pertanyaannya adalah bagaimana mendapatkan hasil tanpa mengambil isinya. Di situlah esensi konservasi,” ujar Indra.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah desa di Banggai Kepulauan mulai menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan model konservasi yang hidup dan dijalankan langsung oleh masyarakat. Desa Tangkop, misalnya, mengembangkan konsep Bank Ikan, sementara Desa Mamulusan menerapkan sistem buka-tutup penangkapan gurita. Pola serupa juga mulai diterapkan di Desa Kindandal dan Desa Tomboniki.

Meski menghadapi berbagai tantangan, program tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Masyarakat Desa Tangkop kini tidak lagi harus melaut jauh ketika membutuhkan ikan untuk keperluan adat maupun kegiatan sosial masyarakat. Di Desa Mamulusan, nelayan juga mulai merasakan peningkatan hasil tangkapan di sekitar wilayah desa.

Salah satu nelayan yang aktif mendukung konservasi berbasis masyarakat adalah Avtrisno. Jika sebelumnya ia harus melaut hingga sekitar empat mil dari pesisir desa untuk mendapatkan ikan, kini ia cukup memancing kurang dari satu mil dari kampungnya.

Dalam satu kesempatan, Avtrisno berhasil memperoleh sekitar 30 kilogram ikan kuwe atau bubara hanya dalam waktu lima jam. Dengan harga jual rata-rata Rp35 ribu per kilogram, hasil tangkapannya mencapai sekitar Rp1,05 juta dengan biaya operasional yang relatif kecil, hanya membutuhkan dua hingga tiga liter bahan bakar.

Nelayan lainnya, Hobni, bahkan pernah memperoleh hingga 50 kilogram ikan dalam satu malam dengan nilai ekonomi lebih dari Rp2 juta.

Fenomena melimpahnya ikan bubara di sekitar perairan Desa Mamulusan mulai dirasakan sejak Oktober 2025. Saat itu, seorang pemuda desa bernama Ariatno Siolan atau Angga kerap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah di sekitar kampung menggunakan joran pancing. Kabar tersebut kemudian menyebar dan mendorong semakin banyak nelayan memanfaatkan perairan sekitar desa.

Indra menilai kondisi tersebut menjadi indikator bahwa perlindungan kawasan pesisir dan laut mulai memberikan dampak positif terhadap pemulihan stok ikan.

“Ketika ekosistem terumbu karang dan kawasan pesisir dijaga, ikan akan kembali. Ketika ikan kembali, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Di situlah hubungan timbal balik antara manusia dan alam terbentuk,” katanya.

Tokoh masyarakat Desa Mamulusan, Lot Frans, mengingat kembali situasi beberapa tahun lalu ketika praktik pengeboman ikan masih marak terjadi di sekitar desa.

Menurutnya, ledakan bom ikan bisa terdengar berkali-kali dalam sehari. Ia bahkan menggambarkan situasi saat itu seperti medan perang karena aktivitas destructive fishing berlangsung hampir setiap hari.

Kondisi tersebut perlahan berubah setelah masyarakat mulai memahami pentingnya menjaga ekosistem laut. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan organisasi konservasi, mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif untuk melindungi wilayah pesisir.

Data pemantauan hasil pendaratan ikan dan biomassa ikan karang yang dilakukan Burung Indonesia pada periode 2023 hingga awal 2026 turut menunjukkan indikasi pemulihan sumber daya perikanan di kawasan tersebut.

Meski demikian, ancaman masih terus ada. Praktik penangkapan ikan menggunakan bius maupun panah dengan bantuan kompresor masih sesekali terjadi dan memicu konflik dengan nelayan yang mendukung pengelolaan berkelanjutan.

Karena itu, masyarakat berharap adanya dukungan yang lebih kuat dalam penegakan hukum terhadap pelaku destructive fishing dan illegal fishing agar upaya konservasi yang telah dibangun tidak kembali rusak.

Selain menyoroti keberhasilan Tangkop dan Mamulusan, Indra juga melihat potensi besar yang dimiliki Desa Popidolon untuk berkembang sebagai destinasi wisata bahari berbasis konservasi.

Menurutnya, Popidolon memiliki kombinasi ekosistem yang sangat menarik, mulai dari laguna, pulau-pulau kecil tempat singgah burung migrasi, kawasan mangrove, hingga hamparan terumbu karang yang berpotensi menjadi lokasi snorkeling dan wisata alam.

Di kawasan tersebut juga terdapat berbagai satwa laut yang memiliki nilai konservasi tinggi, seperti pari manta, hiu paus, guitarfish, hiu berjalan, serta schooling ikan bubara yang menjadi daya tarik tersendiri.

“Popidolon memiliki modal alam yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menjaga dan memulihkannya terlebih dahulu. Bank Ikan menjadi langkah awal, kemudian rehabilitasi terumbu karang, dan setelah itu pengembangan wisata berbasis alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelas Indra.

Ia menambahkan, letak Popidolon yang relatif dekat dengan Kota Salakan menjadi keuntungan tersendiri dalam pengembangan wisata berkelanjutan. Dengan akses yang mudah, desa tersebut berpeluang menjadi salah satu pintu gerbang wisata bahari di Kecamatan Liang bahkan Banggai Kepulauan secara umum.

Bagi Indra, pengalaman di Tangkop, Mamulusan, hingga Popidolon menunjukkan satu pelajaran penting: konservasi akan lebih mudah diterima dan dijaga ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.

Karena itu, pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat harus selalu dihubungkan dengan peningkatan kesejahteraan warga melalui perikanan berkelanjutan, rehabilitasi ekosistem, maupun pengembangan wisata alam.

“Alam yang sehat akan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari lingkungan yang terjaga, maka mereka akan menjadi garda terdepan dalam melindunginya. Itulah makna sesungguhnya dari pertanyaan yang kami diskusikan bersama masyarakat: bagaimana mendapatkan hasil tanpa mengambil isinya,” tutup Indra Adi Putra Salam.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Marak Kasus Cabul Anak di Bangkep, PDI Perjuangan Minta Pengawasan Sekolah Diperketat

    Marak Kasus Cabul Anak di Bangkep, PDI Perjuangan Minta Pengawasan Sekolah Diperketat

    • calendar_month Sen, 13 Okt 2025
    • visibility 247
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Terungkapnya kasus dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur di Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, memicu keprihatinan mendalam dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Banggai Kepulauan. Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Bangkep, Meiyer Damima, SE., mengecam keras tindakan bejat tersebut dan meminta seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, memperketat pengawasan di […]

  • Misteri Kematian Adik Naya, Polres Bangkep Lakukan Autopsi Forensik Usai Ekshumasi

    Misteri Kematian Adik Naya, Polres Bangkep Lakukan Autopsi Forensik Usai Ekshumasi

    • calendar_month Jum, 13 Jun 2025
    • visibility 1.202
    • 0Komentar

    BANGGAI LAUT, tatandai.id — Upaya pengungkapan kasus kematian Hijrah Adriani alias Naya (5), anak perempuan asal Banggai Kepulauan yang ditemukan meninggal secara misterius pada awal Februari 2025, kembali dilanjutkan oleh pihak kepolisian. Jumat (13/6/2025), Polres Banggai Kepulauan melakukan proses ekshumasi atau pembongkaran makam untuk melaksanakan autopsi forensik pertama terhadap jenazah Naya, guna mengungkap penyebab pasti […]

  • Muhammad Saleh Gasin: BUMDes sebagai Model Distribusi BBM Berbasis Desa, Jawaban atas Keterbatasan Akses di Bangkep

    Muhammad Saleh Gasin: BUMDes sebagai Model Distribusi BBM Berbasis Desa, Jawaban atas Keterbatasan Akses di Bangkep

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2026
    • visibility 249
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Persoalan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menjadi sorotan, terutama setelah muncul berbagai gejolak di masyarakat akibat sulitnya akses dan ketidakteraturan distribusi di lapangan. Menanggapi kondisi tersebut, Advokat dan Akademisi, Muhammad Saleh Gasin, menawarkan pendekatan solusi yang dinilai realistis, terukur, dan sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan, yakni […]

  • Minimnya Kontrol Sosial Di Banggai Kepulauan Dinilai Membuka Ruang Penyimpangan, Muhammad Saleh Gasin Ingatkan Pentingnya Pengawasan Bersama

    Minimnya Kontrol Sosial Di Banggai Kepulauan Dinilai Membuka Ruang Penyimpangan, Muhammad Saleh Gasin Ingatkan Pentingnya Pengawasan Bersama

    • calendar_month Sel, 24 Mar 2026
    • visibility 769
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Minimnya kontrol sosial di Kabupaten Banggai Kepulauan dinilai menjadi salah satu faktor yang membuka ruang terjadinya berbagai penyimpangan di tengah masyarakat. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari seluruh elemen masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh praktisi hukum dan advokat, Muhammad Saleh Gasin, yang selama ini aktif […]

  • Sorotan!!! Bom Ikan Mengguncang Buko Selatan, Masyarakat Tantang Kapolres Bangkep Buktikan Komitmen

    Sorotan!!! Bom Ikan Mengguncang Buko Selatan, Masyarakat Tantang Kapolres Bangkep Buktikan Komitmen

    • calendar_month Jum, 19 Sep 2025
    • visibility 317
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Aksi biadab merusak laut kembali mencoreng wajah konservasi di Banggai Kepulauan. Jumat (19/9/2025) pagi, warga dikejutkan dengan praktik pemboman ikan di sekitar perairan Pulau Sombuangan, Kecamatan Buko Selatan, kawasan konservasi laut yang semestinya dijaga ketat untuk wisata bahari dan keberlanjutan ekosistem. Ironisnya, praktik ilegal ini dilakukan terang-terangan di siang bolong, seolah menantang […]

  • Muhammad Saleh Gasin Bongkar Praktik Tebang Pilih Polres Bangkep dalam Kasus Pemalsuan Dokumen PPPK

    Muhammad Saleh Gasin Bongkar Praktik Tebang Pilih Polres Bangkep dalam Kasus Pemalsuan Dokumen PPPK

    • calendar_month Rab, 15 Okt 2025
    • visibility 1.207
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Kasus dugaan pemalsuan dokumen dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai Kepulauan tahun 2022 kembali menjadi sorotan publik. Meski Satreskrim Polres Bangkep telah menetapkan tiga peserta seleksi sebagai tersangka, menyerahkan berkas perkara ke Kejaksaan Negeri Banggai Laut, dan saat ini mereka telah berstatus […]

error: Content is protected !!
expand_less