Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » LINGKUNGAN » Indra Adi Putra Salam: “Cara Mendapatkan Hasil Tanpa Mengambil Isinya” Jadi Kunci Masa Depan Konservasi Laut Banggai Kepulauan

Indra Adi Putra Salam: “Cara Mendapatkan Hasil Tanpa Mengambil Isinya” Jadi Kunci Masa Depan Konservasi Laut Banggai Kepulauan

  • calendar_month Jum, 29 Mei 2026
  • visibility 329
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Konservasi tidak selalu berarti larangan mengambil manfaat dari alam. Justru sebaliknya, konservasi yang berhasil adalah ketika masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan tanpa merusak sumber daya yang menjadi penopangnya. Gagasan inilah yang disampaikan oleh pemerhati lingkungan dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), Indra Adi Putra Salam, saat berbicara mengenai perkembangan konservasi berbasis masyarakat di kawasan KKPD Banggai Area XII (B), Kabupaten Banggai Kepulauan.

Menurut Indra, konsep konservasi yang ideal adalah menjaga ekosistem sebagai “tabungan masa depan”, sementara masyarakat memanfaatkan hasil yang dihasilkan ekosistem tersebut secara berkelanjutan.

“Konservasi pada dasarnya adalah perlindungan. Dalam konteks laut, kita menjaga ekosistemnya sebagai tabungan, sementara yang kita manfaatkan adalah bunganya. Pertanyaannya adalah bagaimana mendapatkan hasil tanpa mengambil isinya. Di situlah esensi konservasi,” ujar Indra.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah desa di Banggai Kepulauan mulai menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan model konservasi yang hidup dan dijalankan langsung oleh masyarakat. Desa Tangkop, misalnya, mengembangkan konsep Bank Ikan, sementara Desa Mamulusan menerapkan sistem buka-tutup penangkapan gurita. Pola serupa juga mulai diterapkan di Desa Kindandal dan Desa Tomboniki.

Meski menghadapi berbagai tantangan, program tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Masyarakat Desa Tangkop kini tidak lagi harus melaut jauh ketika membutuhkan ikan untuk keperluan adat maupun kegiatan sosial masyarakat. Di Desa Mamulusan, nelayan juga mulai merasakan peningkatan hasil tangkapan di sekitar wilayah desa.

Salah satu nelayan yang aktif mendukung konservasi berbasis masyarakat adalah Avtrisno. Jika sebelumnya ia harus melaut hingga sekitar empat mil dari pesisir desa untuk mendapatkan ikan, kini ia cukup memancing kurang dari satu mil dari kampungnya.

Dalam satu kesempatan, Avtrisno berhasil memperoleh sekitar 30 kilogram ikan kuwe atau bubara hanya dalam waktu lima jam. Dengan harga jual rata-rata Rp35 ribu per kilogram, hasil tangkapannya mencapai sekitar Rp1,05 juta dengan biaya operasional yang relatif kecil, hanya membutuhkan dua hingga tiga liter bahan bakar.

Nelayan lainnya, Hobni, bahkan pernah memperoleh hingga 50 kilogram ikan dalam satu malam dengan nilai ekonomi lebih dari Rp2 juta.

Fenomena melimpahnya ikan bubara di sekitar perairan Desa Mamulusan mulai dirasakan sejak Oktober 2025. Saat itu, seorang pemuda desa bernama Ariatno Siolan atau Angga kerap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah di sekitar kampung menggunakan joran pancing. Kabar tersebut kemudian menyebar dan mendorong semakin banyak nelayan memanfaatkan perairan sekitar desa.

Indra menilai kondisi tersebut menjadi indikator bahwa perlindungan kawasan pesisir dan laut mulai memberikan dampak positif terhadap pemulihan stok ikan.

“Ketika ekosistem terumbu karang dan kawasan pesisir dijaga, ikan akan kembali. Ketika ikan kembali, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Di situlah hubungan timbal balik antara manusia dan alam terbentuk,” katanya.

Tokoh masyarakat Desa Mamulusan, Lot Frans, mengingat kembali situasi beberapa tahun lalu ketika praktik pengeboman ikan masih marak terjadi di sekitar desa.

Menurutnya, ledakan bom ikan bisa terdengar berkali-kali dalam sehari. Ia bahkan menggambarkan situasi saat itu seperti medan perang karena aktivitas destructive fishing berlangsung hampir setiap hari.

Kondisi tersebut perlahan berubah setelah masyarakat mulai memahami pentingnya menjaga ekosistem laut. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan organisasi konservasi, mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif untuk melindungi wilayah pesisir.

Data pemantauan hasil pendaratan ikan dan biomassa ikan karang yang dilakukan Burung Indonesia pada periode 2023 hingga awal 2026 turut menunjukkan indikasi pemulihan sumber daya perikanan di kawasan tersebut.

Meski demikian, ancaman masih terus ada. Praktik penangkapan ikan menggunakan bius maupun panah dengan bantuan kompresor masih sesekali terjadi dan memicu konflik dengan nelayan yang mendukung pengelolaan berkelanjutan.

Karena itu, masyarakat berharap adanya dukungan yang lebih kuat dalam penegakan hukum terhadap pelaku destructive fishing dan illegal fishing agar upaya konservasi yang telah dibangun tidak kembali rusak.

Selain menyoroti keberhasilan Tangkop dan Mamulusan, Indra juga melihat potensi besar yang dimiliki Desa Popidolon untuk berkembang sebagai destinasi wisata bahari berbasis konservasi.

Menurutnya, Popidolon memiliki kombinasi ekosistem yang sangat menarik, mulai dari laguna, pulau-pulau kecil tempat singgah burung migrasi, kawasan mangrove, hingga hamparan terumbu karang yang berpotensi menjadi lokasi snorkeling dan wisata alam.

Di kawasan tersebut juga terdapat berbagai satwa laut yang memiliki nilai konservasi tinggi, seperti pari manta, hiu paus, guitarfish, hiu berjalan, serta schooling ikan bubara yang menjadi daya tarik tersendiri.

“Popidolon memiliki modal alam yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menjaga dan memulihkannya terlebih dahulu. Bank Ikan menjadi langkah awal, kemudian rehabilitasi terumbu karang, dan setelah itu pengembangan wisata berbasis alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelas Indra.

Ia menambahkan, letak Popidolon yang relatif dekat dengan Kota Salakan menjadi keuntungan tersendiri dalam pengembangan wisata berkelanjutan. Dengan akses yang mudah, desa tersebut berpeluang menjadi salah satu pintu gerbang wisata bahari di Kecamatan Liang bahkan Banggai Kepulauan secara umum.

Bagi Indra, pengalaman di Tangkop, Mamulusan, hingga Popidolon menunjukkan satu pelajaran penting: konservasi akan lebih mudah diterima dan dijaga ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.

Karena itu, pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat harus selalu dihubungkan dengan peningkatan kesejahteraan warga melalui perikanan berkelanjutan, rehabilitasi ekosistem, maupun pengembangan wisata alam.

“Alam yang sehat akan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari lingkungan yang terjaga, maka mereka akan menjadi garda terdepan dalam melindunginya. Itulah makna sesungguhnya dari pertanyaan yang kami diskusikan bersama masyarakat: bagaimana mendapatkan hasil tanpa mengambil isinya,” tutup Indra Adi Putra Salam.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maraden Arwen Yalume Tolak Tambang Gamping di Pandaluk: “Ini Sama Saja Menggali Kuburan Hidup bagi Warga”

    Maraden Arwen Yalume Tolak Tambang Gamping di Pandaluk: “Ini Sama Saja Menggali Kuburan Hidup bagi Warga”

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • visibility 1.296
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Rencana aktivitas tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan, khususnya di kawasan wilayah Desa Pandaluk, Kecamatan Bulagi Selatan, menuai penolakan keras dari masyarakat setempat. Pernyataan sikap tersebut disampaikan oleh Maraden Arwen Yalume, Tokoh Masyarakat sekaligus Kepala Desa Pandaluk. Ia menegaskan bahwa masyarakat Desa Pandaluk menolak rencana pelaksanaan tambang gamping karena dinilai […]

  • Polres Bangkep Tegas Sikapi Polemik BBM Subsidi: Siap Tindak Penyelewengan

    Polres Bangkep Tegas Sikapi Polemik BBM Subsidi: Siap Tindak Penyelewengan

    • calendar_month Kam, 25 Sep 2025
    • visibility 857
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Polemik penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) kian hangat diperbincangkan. Kelangkaan dan dugaan penyelewengan BBM yang ramai diberitakan belakangan ini akhirnya mendapat tanggapan tegas dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Bangkep. Sebelumnya, Pemerintah Daerah pada Rabu (17/09/2025) telah menggelar rapat besar bersama berbagai pihak, mulai dari eksekutif, […]

  • Muhammad Saleh Gasin Bongkar Arah Baru Hukum Pidana: Dari Menghukum ke Memulihkan

    Muhammad Saleh Gasin Bongkar Arah Baru Hukum Pidana: Dari Menghukum ke Memulihkan

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2026
    • visibility 744
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID – Paradigma penegakan hukum pidana di Indonesia resmi memasuki babak baru. Setelah puluhan tahun berorientasi pada pembalasan (retributive justice), negara kini menggeser arah menuju pendekatan pemulihan melalui mekanisme restorative justice sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 2025 yang mulai berlaku seiring diberlakukannya KUHP Nasional pada 2 Januari 2026. Advokat sekaligus dosen, […]

  • Nadjamuddin Mointang: Karst Banggai Kepulauan Tak Tergantikan, Jangan Dipertaruhkan demi Tambang

    Nadjamuddin Mointang: Karst Banggai Kepulauan Tak Tergantikan, Jangan Dipertaruhkan demi Tambang

    • calendar_month Ming, 31 Mei 2026
    • visibility 113
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Polemik terkait rencana eksploitasi batu gamping di kawasan karst Banggai Kepulauan terus memantik perhatian publik. Di tengah perdebatan mengenai manfaat ekonomi dan dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan, Analis Kebijakan Nadjamuddin Mointang menegaskan bahwa kawasan karst merupakan aset strategis daerah yang tidak dapat digantikan dan tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan ekonomi jangka […]

  • Keluarga Laporkan Dugaan Kejanggalan Penanganan Persalinan di RS Trikora Salakan, Seorang Guru Meninggal Dunia

    Keluarga Laporkan Dugaan Kejanggalan Penanganan Persalinan di RS Trikora Salakan, Seorang Guru Meninggal Dunia

    • calendar_month Rab, 15 Apr 2026
    • visibility 1.496
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id –  Keluarga almarhumah Farida, seorang guru asal Manggalai, melaporkan dugaan kejanggalan dalam penanganan persalinan di RS Trikora Salakan kepada pihak kepolisian. Pengaduan tersebut ditujukan kepada Kapolres Banggai Kepulauan dan tertanggal 13 April 2026. Dalam surat pengaduan, pihak keluarga meminta agar peristiwa yang berujung pada meninggalnya almarhumah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. […]

  • Indra Banguno: Tambang Batu Gamping di Bangkep Bisa Ancam Sumber Air, Laut, dan Masa Depan Pulau-Pulau Kecil

    Indra Banguno: Tambang Batu Gamping di Bangkep Bisa Ancam Sumber Air, Laut, dan Masa Depan Pulau-Pulau Kecil

    • calendar_month Ming, 31 Mei 2026
    • visibility 144
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Aktivis lingkungan dan pemerhati daerah, Indra Banguno, menyuarakan kekhawatirannya terhadap rencana aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah. Menurutnya, karakter geografis Bangkep yang didominasi pulau-pulau kecil menjadikan kawasan tersebut sangat rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan akibat eksploitasi karst. Indra menegaskan bahwa Bangkep bukan wilayah daratan luas yang […]

error: Content is protected !!
expand_less