Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » EDUKASI » Putusan PTUN Menggantung: Keadilan Terhenti di Labirin Birokrasi

Putusan PTUN Menggantung: Keadilan Terhenti di Labirin Birokrasi

  • calendar_month Ming, 8 Jun 2025
  • visibility 1.543
  • comment 1 komentar



Oleh: MUHAMMAD SALEH GASIN, S.H., M.H.

Seorang praktisi hukum (Advokat) dan akademisi (Dosen)

Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk untuk menegakkan keadilan dalam sengketa antara warga negara atau badan hukum dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, sebagaimana diubah oleh UU No. 9 Tahun 2004 dan UU No. 51 Tahun 2009, PTUN memiliki kewenangan memeriksa, mengadili, dan memutus sengketa yang timbul akibat keputusan tata usaha negara (KTUN) yang bersifat konkret, individual, dan final. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak putusan PTUN yang telah berkekuatan hukum tetap (BHT) tidak dieksekusi oleh tergugat, meninggalkan penggugat dalam ketidakpastian hukum. Fenomena ini mencerminkan tantangan sistemik dalam birokrasi yang menghambat keadilan.

Menurut Pasal 79 UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, pejabat pemerintahan wajib melaksanakan putusan pengadilan yang BHT. Pasal 64 dan 66 UU ini mengatur bahwa pelaksanaan putusan harus dilakukan dalam waktu 21 hari kerja sejak putusan diterima. Ketentuan ini diperkuat oleh UU No. 5 Tahun 1986, khususnya Pasal 116, yang mengatur prosedur eksekusi putusan PTUN. Pasal 116 ayat (1) menyatakan bahwa salinan putusan BHT harus dikirimkan kepada para pihak dalam 14 hari kerja oleh panitera pengadilan tingkat pertama.

Jika putusan mengabulkan gugatan, Pasal 97 ayat (9) UU No. 5 Tahun 1986 menetapkan kewajiban tergugat untuk: (a) mencabut KTUN yang disengketakan, (b) mencabut KTUN dan menerbitkan yang baru, atau (c) menerbitkan KTUN baru jika sengketa timbul karena ketiadaan keputusan (Pasal 3). Jika tergugat tidak mencabut KTUN dalam 60 hari kerja, keputusan tersebut kehilangan kekuatan hukum (Pasal 116 ayat 2). Untuk kewajiban lain seperti penerbitan KTUN baru, tenggat waktu adalah 90 hari kerja, dan penggugat dapat mengajukan permohonan eksekusi paksa jika kewajiban ini tidak dipenuhi (Pasal 116 ayat 3).

Petunjuk Pelaksanaan Mahkamah Agung Nomor 01/KM.TUN/HK2.7/Juklak/VII/2024 (Juklak 2024) memberikan panduan teknis eksekusi. Angka Romawi II Juklak mengatur pemberitahuan putusan dalam 14 hari kerja, sementara Angka Romawi IV menetapkan eksekusi otomatis setelah 60 hari. Jika tergugat tetap tidak patuh setelah 90 hari, dalam Angka Romawi V memungkinkan eksekusi paksa melalui surat peringatan, penetapan eksekusi, uang paksa, atau sanksi administratif. Pengumuman ketidakpatuhan di media massa juga diwajibkan (Pasal 116 ayat 5 UU No. 5 Tahun 1986 dan Juklak Angka Romawi V).

Dalam sengketa tertentu, putusan PTUN dapat mencakup ganti rugi atau rehabilitasi. Pasal 97 ayat (10) UU No. 5 Tahun 1986 memungkinkan pembebanan ganti rugi, yang prosedurnya diatur dalam Pasal 120. Salinan putusan ganti rugi harus dikirimkan dalam 3 hari setelah BHT kepada penggugat, tergugat, dan pejabat yang dibebani kewajiban (Pasal 120 ayat 1-2). Juklak 2024 (Angka Romawi VI) menetapkan bahwa penggugat dapat mengajukan permohonan eksekusi ganti rugi dalam 30 hari jika kewajiban tidak dipenuhi. Tata cara pelaksanaan ganti rugi merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1991 (Pasal 120 ayat 3).

Untuk sengketa kepegawaian, Pasal 97 ayat (11) UU No. 5 Tahun 1986 memungkinkan rehabilitasi, yaitu pemulihan kedudukan, harkat, dan martabat pegawai seperti semula (Pasal 121). Juklak 2024 (Angka Romawi VII) mengatur bahwa rehabilitasi harus mempertimbangkan UU No. 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara dan PP No. 17 Tahun 2020 tentang Manajemen PNS. Jika rehabilitasi tidak memungkinkan karena jabatan telah terisi, Angka Romawi VIII Juklak memungkinkan kompensasi sebagai alternatif, sebagaimana diatur dalam Pasal 117 UU No. 5 Tahun 1986. Pasal 117 memungkinkan penggugat mengajukan kompensasi dalam 30 hari jika keadaan berubah setelah putusan BHT, dengan ketua pengadilan menetapkan jumlahnya jika tidak ada kesepakatan.

Ketidakpatuhan pejabat terhadap putusan PTUN dapat dikenakan sanksi administratif berdasarkan PP No. 48 Tahun 2016. Sanksi ini mencakup teguran tertulis, penurunan pangkat, hingga pemberhentian, yang dikenakan oleh atasan pejabat atau Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dengan koordinasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). Pasal 116 ayat (4) UU No. 5 Tahun 1986 juga mengatur uang paksa sebagai upaya paksa, sementara ayat (6) mewajibkan ketua pengadilan melaporkan ketidakpatuhan ke Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi dan ke DPR untuk pengawasan.

Juklak 2024 (Angka Romawi V) memperkuat mekanisme ini dengan mengatur pengumuman di media massa dan pemberitahuan ke otoritas terkait. Namun, implementasi sanksi sering terhambat oleh kompleksitas birokrasi, seperti kurangnya koordinasi antarinstansi atau ketidakjelasan wewenang penegak sanksi.

Meskipun regulasi telah jelas, eksekusi putusan PTUN sering terhambat. Pertama, sikap pejabat yang mengabaikan putusan karena kepentingan pribadi atau institusi sering kali tidak diikuti sanksi tegas. Kedua, kurangnya pengawasan internal oleh atasan pejabat atau APIP memperlambat penegakan sanksi. Ketiga, sengketa kepegawaian yang melibatkan rehabilitasi sering terhenti karena jabatan yang dimaksud telah terisi, memaksa penggugat menerima kompensasi yang tidak selalu memadai.

Angka Romawi X Juklak 2024 mengatur penetapan non-eksekutabel jika putusan tidak dapat dilaksanakan karena keadaan tertentu, seperti perubahan hukum atau keadaan force majeure. Namun, penetapan ini terkadang disalahgunakan untuk menghindari eksekusi, merugikan penggugat yang telah memenangkan perkara.

Untuk mengatasi hambatan ini, beberapa langkah dapat diambil. Pertama, memperkuat pengawasan oleh KemenPAN-RB dan APIP untuk memastikan sanksi administratif PP No. 48 Tahun 2016 ditegakkan secara konsisten. Kedua, memanfaatkan teknologi, seperti domisili elektronik untuk pemberitahuan putusan (Juklak 2024, Angka Romawi II), guna mempercepat proses. Ketiga, membentuk satuan tugas eksekusi putusan PTUN di bawah Mahkamah Agung untuk memastikan koordinasi antarinstansi.

Keempat, meningkatkan kesadaran hukum pejabat melalui pelatihan tentang kewajiban UU No. 30 Tahun 2014 dan UU No. 5 Tahun 1986. Terakhir, DPR perlu mengoptimalkan fungsi pengawasan (Pasal 116 ayat 6) untuk menekan pejabat yang tidak patuh. Dalam jangka panjang, revisi PP No. 43 Tahun 1991 dapat dilakukan untuk memperbarui mekanisme ganti rugi agar lebih relevan dengan kebutuhan saat ini.

Putusan PTUN yang tidak dieksekusi mencerminkan kegagalan birokrasi dalam menegakkan keadilan. UU No. 30 Tahun 2014, PP No. 48 Tahun 2016, UU No. 5 Tahun 1986, dan Juklak 2024 telah menyediakan kerangka hukum yang jelas, namun implementasinya terhambat oleh sikap pejabat, kurangnya pengawasan, dan kompleksitas prosedur. Dengan penguatan sanksi, teknologi, dan koordinasi antarinstansi, PTUN dapat menjalankan fungsinya sebagai penegak keadilan, memastikan bahwa putusan tidak hanya menjadi kertas di labirin birokrasi, tetapi benar-benar mengembalikan hak warga negara.

  • Penulis: Muhammad Saleh Gasin, S.H., M.H.
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (1)

  • Adie wijaya

    Jika terjadinya pelanggaran birokrasi yang mengulur waktu untuk pembayaran ganti rugi tanaman warga negara indonesia. Apakah masuk dalam tidak pidana?

    Balas19 Januari 2026 9:39 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yayasan Klinik Bantuan Hukum Muhammad Saleh Gasin Gelar Kembali Program Konsultasi Hukum Keliling Gratis di Banggai Kepulauan

    Yayasan Klinik Bantuan Hukum Muhammad Saleh Gasin Gelar Kembali Program Konsultasi Hukum Keliling Gratis di Banggai Kepulauan

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • visibility 734
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Yayasan Klinik Bantuan Hukum Muhammad Saleh Gasin kembali melaksanakan kegiatan Konsultasi Hukum Keliling Gratis di wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan. Program ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang selama ini dilakukan secara mandiri oleh Yayasan Klinik Bantuan Hukum dengan semangat pengabdian tanpa dukungan anggaran. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dikemas dengan konsep “versi […]

  • Musrenbangdes Tolisetubono Bahas RKPDes 2027 dan DU-RKPDes 2028, Aspirasi Masyarakat Jadi Prioritas

    Musrenbangdes Tolisetubono Bahas RKPDes 2027 dan DU-RKPDes 2028, Aspirasi Masyarakat Jadi Prioritas

    • calendar_month Rab, 9 Sep 2026
    • visibility 79
    • 0Komentar

    TOLISETUBONO, tatandak.id – Pemerintah Desa Tolisetubono menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun Anggaran 2027 dan Daftar Usulan Rencana Kerja Pemerintah Desa (DU-RKPDes) Tahun Anggaran 2028. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (8/9/2026) di Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Tolisetubono tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam proses […]

  • Sampah Jadi Ancaman Serius di Kawasan Wisata Unggulan Bangkep, Pemda Diminta Gerak Cepat Arahkan CSR

    Sampah Jadi Ancaman Serius di Kawasan Wisata Unggulan Bangkep, Pemda Diminta Gerak Cepat Arahkan CSR

    • calendar_month Rab, 25 Jun 2025
    • visibility 612
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id — Persoalan sampah di kawasan wisata prioritas satu Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) dinilai semakin mengkhawatirkan. Kawasan Kopopokuli yang masuk dalam zona unggulan destinasi wisata, kini justru mulai dipenuhi tumpukan sampah di darat maupun di laut. Padahal, kawasan ini tengah disiapkan menyambut event besar bertaraf nasional dan internasional, termasuk Festival Paisupok yang pernah dipresentasikan […]

  • Pemerintah Diminta Segera Serahkan SK 17 Orang P3K di Bangkep, Aktivis Sebut Sistem Pansel Rusak Parah

    Pemerintah Diminta Segera Serahkan SK 17 Orang P3K di Bangkep, Aktivis Sebut Sistem Pansel Rusak Parah

    • calendar_month Rab, 11 Jun 2025
    • visibility 980
    • 0Komentar

    SALAKAN, tatandak.id — Polemik terkait penundaan pemberian Surat Keputusan (SK) kepada 17 orang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang telah lolos seleksi kini semakin memanas. Aktivis dan penggiat media, Irwanto DJ, mengungkapkan kekecewaannya dan mendesak pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan untuk segera menyerahkan SK kepada para P3K yang sudah memenuhi syarat. Menurut Irwanto, masalah ini […]

  • TIDAR Banggai Kepulauan Gelar “Merdeka Sehat”, 109 Warga Patukuki Ikuti Cek Kesehatan Gratis

    TIDAR Banggai Kepulauan Gelar “Merdeka Sehat”, 109 Warga Patukuki Ikuti Cek Kesehatan Gratis

    • calendar_month Sel, 1 Sep 2026
    • visibility 162
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Pengurus Cabang Tunas Indonesia Raya (PC TIDAR) Banggai Kepulauan menggelar kegiatan “Merdeka Sehat” di Desa Patukuki, Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis sekaligus pemberian obat secara cuma-cuma bagi masyarakat. Kegiatan yang mengusung tema “Bangkep Sehat, Indonesia Kuat” ini menjadi salah satu bentuk kepedulian PC TIDAR Banggai Kepulauan terhadap […]

  • Muhammad Saleh Gasin: Putuskan Rantai Kepentingan yang Merusak Tatanan BBM di Bangkep

    Muhammad Saleh Gasin: Putuskan Rantai Kepentingan yang Merusak Tatanan BBM di Bangkep

    • calendar_month Sab, 4 Apr 2026
    • visibility 644
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Advokat dan Pemerhati Daerah serta Kepentingan Publik, Muhammad Saleh Gasin menegaskan bahwa persoalan BBM subsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan tidak akan pernah benar-benar tertib selama rantai kepentingan dan simpul kepentingan yang selama ini saling menjaga masih dibiarkan hidup. Menurutnya, di situlah letak akar kerusakan yang paling menentukan. Selama simpul-simpul itu tetap dipelihara, […]

error: Content is protected !!
expand_less