Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » HUKUM » Muhammad Saleh Gasin Tegaskan Sikap soal Tambang Batu Gamping di Banggai Kepulauan: “Saya Tidak Anti-Investasi, Tapi Saya Menolak Jika Rakyat dan Alam Dikorbankan”

Muhammad Saleh Gasin Tegaskan Sikap soal Tambang Batu Gamping di Banggai Kepulauan: “Saya Tidak Anti-Investasi, Tapi Saya Menolak Jika Rakyat dan Alam Dikorbankan”

  • calendar_month Sel, 28 Apr 2026
  • visibility 250
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Advokat sekaligus putra daerah Banggai Kepulauan, Muhammad Saleh Gasin, akhirnya menyampaikan sikap terbuka terkait polemik tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan.

Pernyataan ini disampaikan setelah mulai muncul pertanyaan dari sejumlah pihak mengenai posisi dirinya sebagai anak daerah terhadap rencana maupun aktivitas pertambangan batu gamping yang belakangan menjadi perhatian publik.

Muhammad Saleh Gasin menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak ingin terburu-buru menempatkan diri sepenuhnya di pihak yang pro maupun kontra. Menurutnya, setiap isu besar yang menyangkut kepentingan daerah, masyarakat, lingkungan, dan masa depan generasi Banggai Kepulauan harus dilihat secara jernih, adil, dan bertanggung jawab.

“Saya perlu tegaskan sejak awal, saya tidak anti-investasi. Saya juga tidak menolak pembangunan. Tetapi saya menolak jika atas nama investasi dan pembangunan, rakyat dikorbankan, lingkungan diabaikan, dan masa depan Banggai Kepulauan dipertaruhkan,” tegas Muhammad Saleh Gasin.

Menurutnya, pada awalnya ia masih membuka ruang untuk mendukung pertambangan apabila aktivitas tersebut benar-benar dilakukan secara benar, transparan, berkeadilan, memperhatikan keberlanjutan lingkungan, menghormati hak-hak masyarakat, serta memberikan manfaat nyata bagi rakyat Banggai Kepulauan.

Namun sebaliknya, ia juga menyatakan akan menolak apabila pertambangan itu lahir dari proses yang bermasalah, seperti dugaan manipulasi izin, pengabaian suara masyarakat, perampasan hak rakyat, ketertutupan informasi, atau menutup mata terhadap potensi kerusakan lingkungan.

“Kalau pertambangan dilakukan dengan benar, terbuka, adil, menjaga lingkungan, dan benar-benar memberi manfaat kepada rakyat, tentu harus dilihat secara objektif. Tetapi kalau prosesnya tertutup, masyarakat tidak dilibatkan, hak rakyat diabaikan, dan ada ancaman terhadap sumber air serta ruang hidup masyarakat, maka saya tidak punya alasan moral untuk mendukungnya,” ujar Muhammad Saleh Gasin.

Ia mengaku, semakin ke sini dirinya semakin cenderung menolak tambang batu gamping di Banggai Kepulauan. Sikap itu muncul setelah ia berdiskusi dengan beberapa pihak yang memahami dunia pertambangan, serta melihat bahwa persoalan tambang batu gamping bukanlah persoalan sederhana.

Menurut Muhammad Saleh Gasin, publik tidak boleh terjebak pada narasi bahwa tambang semata-mata berarti investasi, lapangan kerja, atau pendapatan daerah. Sebab, di balik itu ada risiko besar yang harus dihitung secara jujur, terutama karena Banggai Kepulauan adalah daerah kepulauan kecil dengan daya dukung lingkungan yang terbatas.

“Tambang batu gamping ini bukan hanya soal batu yang diambil dari gunung. Ini soal sumber air, kawasan karst, kebun masyarakat, lahan pangan, kesehatan warga, jalan desa, kampung, dan masa depan anak cucu Banggai Kepulauan,” katanya.

Muhammad Saleh Gasin menilai, kerusakan lingkungan di daerah kepulauan kecil tidak bisa dipandang sama dengan kerusakan di wilayah daratan besar. Menurutnya, jika sumber air terganggu, kawasan karst rusak, kebun masyarakat terdampak, atau ruang hidup warga terganggu, maka yang menanggung akibat langsung adalah masyarakat biasa.

“Kalau sumber air rusak, yang susah rakyat. Kalau kebun terganggu, yang rugi rakyat. Kalau lingkungan hancur, yang menanggung akibatnya juga rakyat. Perusahaan bisa datang dan pergi, tetapi rakyat tetap tinggal di atas tanah itu dengan seluruh akibatnya,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan apakah pantas masyarakat Banggai Kepulauan diminta menerima risiko besar hanya berdasarkan janji investasi. Menurutnya, janji lapangan kerja, pendapatan daerah, dan kesejahteraan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam pertanyaan rakyat.

“Pertanyaannya sederhana yakni apakah pantas kita menukar sumber air dan ruang hidup masyarakat dengan janji investasi? Apakah pantas rakyat diminta percaya, sementara risiko besarnya mereka sendiri yang menanggung? Apakah pantas daerah kepulauan seperti Banggai Kepulauan dipertaruhkan hanya karena ada pihak yang bicara atas nama pembangunan?” ujarnya.

Muhammad Saleh Gasin menegaskan bahwa pembangunan yang benar tidak boleh menyingkirkan rakyat. Investasi yang sehat, menurutnya, harus hadir dengan keterbukaan, kejujuran, dan penghormatan terhadap masyarakat, bukan dengan cara memaksa rakyat menerima keputusan yang sudah dibuat tanpa partisipasi bermakna.

Karena itu, ia meminta agar seluruh informasi terkait tambang batu gamping di Banggai Kepulauan dibuka secara terang-benderang kepada publik. Mulai dari izin, peta wilayah, dokumen lingkungan, pemilik kepentingan, desa terdampak, hingga kajian risiko terhadap air, pangan, kebun, kesehatan, jalan, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Semua harus dibuka. Izin tambang harus dibuka. Peta wilayah harus dibuka. Dokumen lingkungan harus dibuka. Desa-desa terdampak harus disebutkan. Dampaknya terhadap sumber air, kebun, pangan, kesehatan, jalan, dan kehidupan sosial masyarakat harus dijelaskan secara jujur. Rakyat berhak tahu,” tegas Muhammad Saleh Gasin.

Menurutnya, apabila tambang batu gamping benar-benar membawa manfaat besar bagi rakyat dan tidak menimbulkan kerusakan, maka tidak ada alasan bagi pihak mana pun untuk takut membuka semua dokumen dan informasi kepada publik.

“Kalau memang tambang itu baik untuk rakyat, kenapa harus takut dibuka? Kalau memang tidak merusak, kenapa takut diuji? Kalau memang membawa manfaat besar, kenapa rakyat tidak dilibatkan sejak awal secara jujur?” katanya.

Ia menambahkan, keterbukaan merupakan ukuran awal untuk melihat apakah sebuah kebijakan benar-benar berpihak kepada masyarakat atau justru lebih berpihak kepada kepentingan tertentu.

“Pembangunan yang benar tidak perlu disembunyikan. Investasi yang sehat tidak perlu dipaksakan. Kebijakan yang berpihak kepada rakyat tidak perlu takut pada keterbukaan,” ujar Muhammad Saleh Gasin.

Sebagai anak daerah, Muhammad Saleh Gasin menegaskan bahwa dirinya tidak ingin Banggai Kepulauan diperlakukan seperti tanah kosong yang bisa diambil dan dikelola tanpa mempertimbangkan kehidupan masyarakat di atasnya.

Ia mengingatkan bahwa di Banggai Kepulauan ada manusia, kampung, petani, nelayan, anak-anak, sumber air, kebun, sejarah, martabat, dan masa depan yang harus dijaga.

“Banggai Kepulauan bukan tanah kosong. Di sana ada manusia. Ada kampung. Ada petani. Ada nelayan. Ada anak-anak. Ada sumber air. Ada kebun. Ada sejarah. Ada martabat. Ada masa depan. Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.

Muhammad Saleh Gasin juga mengingatkan agar istilah “investasi”, “pembangunan”, dan “kesejahteraan” tidak digunakan untuk menutup ruang kritik masyarakat. Menurutnya, rakyat berhak bertanya, berhak menolak, dan berhak dilindungi ketika ruang hidupnya dipertaruhkan.

“Jangan gunakan kata investasi untuk membungkam pertanyaan rakyat. Jangan gunakan kata pembangunan untuk menutupi potensi kerusakan. Jangan gunakan kata kesejahteraan jika rakyat sendiri tidak menjadi pihak utama yang dilindungi,” katanya.

Ia menilai Banggai Kepulauan tetap harus maju, tetapi kemajuan itu tidak boleh dibangun dengan cara merusak sumber hidup masyarakat. Baginya, masa depan Banggai Kepulauan seharusnya dibangun melalui sektor yang lebih berkelanjutan dan dekat dengan kehidupan rakyat, seperti pertanian, perikanan, pangan lokal, UMKM desa, pariwisata, pendidikan, kesehatan, serta penguatan sumber daya manusia.

“Banggai Kepulauan harus maju. Tapi kemajuan itu harus menjaga rakyat, menjaga air, menjaga tanah, menjaga pangan, menjaga kampung, dan menjaga masa depan. Bukan kemajuan yang meninggalkan lubang, debu, konflik, dan kerusakan,” ujarnya.

Muhammad Saleh Gasin menyatakan bahwa posisinya saat ini semakin jelas. Ia cenderung menolak tambang batu gamping di Banggai Kepulauan, terutama apabila masih terdapat keraguan terkait izin, dampak lingkungan, keterlibatan masyarakat, perlindungan sumber air, dan keselamatan ruang hidup rakyat.

Ia menegaskan, jika tambang tersebut terbukti atau berpotensi mengancam sumber air, kawasan karst, lahan pangan, kebun masyarakat, permukiman, kesehatan warga, dan masa depan Banggai Kepulauan, maka sikapnya adalah menolak.

“Kalau tambang batu gamping itu mengancam sumber air, kawasan karst, kebun rakyat, lahan pangan, permukiman, dan ruang hidup masyarakat, maka sikap saya tegas: saya menolak,” tegas Muhammad Saleh Gasin.

Ia menyebut sikap tersebut bukan lahir dari kebencian terhadap investasi, tetapi dari tanggung jawab moral sebagai anak daerah. Menurutnya, diam dalam situasi ketika rakyat dan lingkungan berpotensi dikorbankan adalah bentuk pembiaran.

“Saya bersuara bukan karena ingin terlihat paling benar. Saya bersuara karena saya merasa punya tanggung jawab moral sebagai anak daerah. Kalau ada potensi ancaman terhadap rakyat dan masa depan Banggai Kepulauan, maka diam bukan pilihan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Muhammad Saleh Gasin mengajak masyarakat Banggai Kepulauan untuk tidak takut bertanya, tidak mudah dibungkam, dan tidak menyerahkan masa depan daerah hanya kepada keputusan segelintir pihak.

Ia meminta agar seluruh elemen masyarakat, tokoh desa, pemuda, mahasiswa, akademisi, aktivis, media, dan pemerintah benar-benar melihat persoalan ini secara jernih dan berpihak kepada keselamatan rakyat.

“Ini bukan soal siapa yang pro dan siapa yang kontra. Ini soal masa depan Banggai Kepulauan. Ini soal apakah kita berani menjaga air, tanah, pangan, kampung, dan generasi yang akan datang. Kalau untuk membangun Banggai Kepulauan kita harus menghancurkan sumber hidup rakyatnya sendiri, maka itu bukan pembangunan. Itu kesalahan besar,” tutup Muhammad Saleh Gasin.

Muhammad Saleh Gasin menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh dibayar dengan kerusakan, investasi tidak boleh menginjak rakyat, dan Banggai Kepulauan tidak boleh maju dengan cara menghancurkan dirinya sendiri.

  • Penulis: Tatandak.id
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TATA CARA PENYAMPAIAN PENGADUAN KE KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

    TATA CARA PENYAMPAIAN PENGADUAN KE KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • visibility 1.025
    • 0Komentar

    Dalam rangka mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi serta agar setiap pengaduan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara efektif oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kami sampaikan kepada masyarakat hal-hal sebagai berikut: 📝 Persyaratan Pengaduan Setiap pengaduan yang disampaikan kepada KPK wajib dilengkapi dengan data dan dokumen yang mengindikasikan adanya tindak pidana korupsi, antara lain: Kronologis kasus yang […]

  • OKM Angkatan XXXV Kerukunan Mahasiswa Indonesia Montolutusan Banggai Resmi Dibuka: Fokus pada Kompetensi dan Keselarasan Akademik-Organisasi

    OKM Angkatan XXXV Kerukunan Mahasiswa Indonesia Montolutusan Banggai Resmi Dibuka: Fokus pada Kompetensi dan Keselarasan Akademik-Organisasi

    • calendar_month Kam, 18 Des 2025
    • visibility 377
    • 0Komentar

    LUWUK, tatandak.id – Kerukunan Mahasiswa Indonesia Montolutusan Banggai (KaMIMo Banggai) sukses menggelar pembukaan Orientasi Kader Montolutusan (OKM) Angkatan ke-XXXV Potolosan Tumbe (PT-I). Kegiatan yang mengusung tema tentang “Membentuk Generasi Kompeten, Sukses Secara Akademik dan Sukses Organisasi” ini resmi dimulai pada Kamis, 18 Desember 2025, pukul 15.30 WITA. Acara dibuka dengan nuansa khidmat dan kental akan […]

  • Damai Harus Bayar? Muhammad Saleh Gasin Luruskan Pemahaman soal Restorative Justice

    Damai Harus Bayar? Muhammad Saleh Gasin Luruskan Pemahaman soal Restorative Justice

    • calendar_month Rab, 2 Sep 2026
    • visibility 254
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID – Istilah restorative justice atau keadilan restoratif semakin sering terdengar dalam penyelesaian perkara pidana. Namun, di tengah meningkatnya penerapan mekanisme tersebut, masih muncul anggapan bahwa restorative justice identik dengan pembayaran ganti rugi kepada korban. Padahal, anggapan bahwa setiap restorative justice harus selalu disertai pembayaran sejumlah uang tidak sepenuhnya tepat. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 […]

  • Nakhodai DPC KSBSI Banggai, Hermanius Burunaung Siap Jaga Independensi Pers dan Perjuangkan Hak Buruh

    Nakhodai DPC KSBSI Banggai, Hermanius Burunaung Siap Jaga Independensi Pers dan Perjuangkan Hak Buruh

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • visibility 103
    • 0Komentar

    ​BANGGAI, tatandak.id (17/05/2026) – Peta gerakan buruh dan dinamika pers di Kabupaten Banggai memasuki babak baru. Hermanius Burunaung, yang dikenal luas sebagai Pimpinan Redaksi media investigasi Berantastipikornews, kini resmi mengemban amanah baru sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kabupaten Banggai. ​Langkah rangkap jabatan ini memantik perhatian publik, mengingat posisi […]

  • Akta Kelahiran Anak Angkat Disamakan Anak Kandung, Muhammad Saleh Gasin: Ini Keliru dan Berisiko Hukum, Segera Perbaiki

    Akta Kelahiran Anak Angkat Disamakan Anak Kandung, Muhammad Saleh Gasin: Ini Keliru dan Berisiko Hukum, Segera Perbaiki

    • calendar_month Sab, 27 Des 2025
    • visibility 1.440
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID – Praktik pengangkatan anak yang tidak sesuai prosedur hukum masih sering terjadi di tengah masyarakat, dan yang paling sering ditemui adalah pencantuman nama orang tua angkat sebagai orang tua kandung dalam akta kelahiran, sehingga seolah-olah anak tersebut merupakan anak biologis (anak kandung). Praktik seperti ini keliru dan berisiko hukum. Hal tersebut ditegaskan oleh Muhammad […]

  • 10 Sapi Bantuan Jadi Polemik: Disbunnak Sulteng Bantah Bermasalah, Kades Meselesek Sebut 8 Tak Sampai ke Penerima Sah

    10 Sapi Bantuan Jadi Polemik: Disbunnak Sulteng Bantah Bermasalah, Kades Meselesek Sebut 8 Tak Sampai ke Penerima Sah

    • calendar_month Kam, 8 Okt 2026
    • visibility 302
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Penyaluran bantuan ternak sapi Rambon Bibit untuk Kelompok Sinar Kasih Desa Meselesek, Kecamatan Bulagi, Kabupaten Banggai Kepulauan, masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Persoalan tersebut mencuat setelah muncul perbedaan keterangan antara Pemerintah Desa Meselesek dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah mengenai pelaksanaan penyaluran, penerima bantuan, serta keberadaan 10 ekor sapi yang […]

error: Content is protected !!
expand_less