Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » LINGKUNGAN » Jemianto Maliko: “Banggai Kepulauan Bukan Tanah yang Siap Dikorbankan Demi Tambang”

Jemianto Maliko: “Banggai Kepulauan Bukan Tanah yang Siap Dikorbankan Demi Tambang”

  • calendar_month 15 jam yang lalu
  • visibility 95
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id Penolakan terhadap rencana tambang gamping di Banggai Kepulauan terus menguat. Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan. Di tengah wilayah kepulauan yang kecil dan rentan, aktivitas pertambangan dinilai dapat mengancam sumber kehidupan masyarakat, mulai dari air bersih, pertanian, laut, hingga masa depan generasi mendatang.

Tokoh masyarakat Banggai Kepulauan, Jemianto Maliko, menyuarakan keprihatinannya terhadap rencana eksploitasi kawasan karst di daerah tersebut. Menurutnya, Banggai Kepulauan bukan wilayah luas yang bisa dengan mudah menanggung dampak kerusakan lingkungan akibat tambang berskala besar.

“Banggai Kepulauan ini bukan tanah kosong yang siap dikorbankan. Wilayah kita kecil, tetapi kaya akan kehidupan, budaya, laut, hutan, dan sumber pangan masyarakat. Kalau alam rusak, masyarakat yang pertama merasakan penderitaannya,” ujar Jemianto Maliko, Kamis.

Mantan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Banggai Kepulauan itu menegaskan bahwa kawasan karst dan pegunungan di Bangkep memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi penyangga ekosistem, kawasan tersebut juga menyimpan sumber mata air yang menopang kebutuhan warga sehari-hari.

“Gunung dan karst bukan sekadar batu yang bisa diambil begitu saja. Di sana ada sumber air, ada keseimbangan alam, ada kehidupan masyarakat. Kalau itu hilang, kita sedang mempertaruhkan masa depan daerah ini,” katanya.

Jemianto juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan di wilayah kepulauan dapat berdampak luas dan sulit dipulihkan. Ia menilai keuntungan ekonomi dari tambang hanya bersifat sementara, sementara kerusakan alam bisa diwariskan hingga puluhan tahun.

Menurutnya, Banggai Kepulauan memiliki potensi besar di sektor wisata, perikanan, pertanian, dan budaya yang jauh lebih layak dikembangkan secara berkelanjutan dibanding eksploitasi tambang.

“Keindahan alam Bangkep adalah kekayaan yang sesungguhnya. Laut, pantai, pertanian, budaya masyarakat semua itu yang harus dijaga. Jangan sampai demi keuntungan sesaat, kita kehilangan identitas daerah dan merusak ruang hidup anak cucu kita,” tegasnya.

Kini, suara penolakan terhadap tambang gamping terus bergema di tengah masyarakat. Bagi banyak warga, perjuangan menjaga alam bukan berarti menolak pembangunan, melainkan menuntut pembangunan yang berpihak pada keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat.

“Hari ini masyarakat bersuara karena cinta terhadap tanah Banggai Kepulauan. Sebab ketika alam dijaga, kehidupan tetap ada. Tapi ketika alam dihancurkan, generasi mendatang hanya akan mewarisi kerusakan,” tutup Jemianto Maliko.

  • Penulis: Tatandak.id
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

error: Content is protected !!
expand_less