Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » HUKUM » Kematian Ibu Guru Farida Usai Persalinan di RSUD Trikora Salakan Sisakan Banyak Pertanyaan

Kematian Ibu Guru Farida Usai Persalinan di RSUD Trikora Salakan Sisakan Banyak Pertanyaan

  • calendar_month Kam, 16 Apr 2026
  • visibility 983
  • comment 0 komentar


BANGKEP, tatandak.id
– Kematian Ibu Guru Farida, perempuan 27 tahun asal Desa Manggalai, Kecamatan Tinangkung, usai menjalani persalinan di RSUD Trikora Salakan, menyisakan banyak pertanyaan serius yang hingga kini belum terjawab terang.

Pihak keluarga telah melaporkan peristiwa itu ke Polres Banggai Kepulauan. Di sisi lain, manajemen RSUD Trikora Salakan telah mengeluarkan rilis klarifikasi resmi yang menegaskan bahwa tenaga kesehatan telah bekerja sesuai prosedur, profesional, dan penuh tanggung jawab.

Namun, jika keterangan keluarga dan penjelasan resmi rumah sakit dibaca berdampingan, muncul sejumlah titik ganjil yang patut diusut lebih dalam.

Menurut informasi dari keluarga, Farida masuk rumah sakit pada Minggu. Pada Senin sekitar pukul 08.00 WITA, ia melahirkan normal. Keluarga menyebut, setelah proses persalinan itu, awalnya semua disebut telah keluar. Namun kemudian, menurut keterangan keluarga, beberapa petugas menyampaikan bahwa masih ada darah beku di dalam rahim.

Keluarga menuturkan, setelah itu dilakukan tindakan lanjutan. Dalam versi keluarga, saat tindakan itu dilakukan, korban mengeluh sangat kesakitan. Tak lama kemudian, Farida mengalami pendarahan hebat hingga akhirnya tidak sadarkan diri.

Sekitar pukul 14.00 WITA, keluarga menyebut dokter menyampaikan bahwa ada robekan pada kandungan, sehingga korban harus dioperasi. Setelah operasi, korban sempat dirawat di ICU. Namun pada malam hari, setelah waktu Magrib, Farida dinyatakan meninggal dunia. Keluarga juga menyebut kondisi hemoglobin korban turun sangat rendah sebelum akhirnya meninggal.

Sementara itu, dalam klarifikasi resmi RSUD Trikora Salakan, manajemen rumah sakit menjelaskan bahwa pasien yang sebelumnya menjalani persalinan normal kemudian mengalami pendarahan hebat akibat ruptur uterus atau robekan pada rahim. Rumah sakit menyatakan kondisi itu sulit terdeteksi dan hanya dapat dikenali melalui tanda-tanda vital pasien.

RSUD juga menyebut, satu-satunya penanganan yang dapat dilakukan adalah operasi, dan tindakan tersebut telah dilakukan atas dasar persetujuan keluarga. Direktur RSUD Trikora Salakan, dr. Feldy, SpB, menjelaskan bahwa tindakan operasi yang dilakukan adalah operasi angkat kandungan. Setelah operasi, pasien dipindahkan ke ICU untuk penanganan intensif, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal sekitar pukul 20.00 WITA akibat Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS) atau Multiple Organ Failure (MOF).

Meski demikian, penjelasan resmi rumah sakit justru belum menutup ruang pertanyaan publik. Setidaknya ada beberapa hal mendasar yang perlu dijawab secara terbuka dan rinci.

Pertama, kapan sebenarnya robekan rahim itu terjadi atau pertama kali diketahui. Sebab, versi keluarga menggambarkan bahwa kondisi korban memburuk setelah ada tindakan lanjutan karena disebut masih ada darah beku. Sedangkan versi rumah sakit menegaskan sumber masalahnya adalah ruptur uterus yang sulit terdeteksi.

Kedua, mengapa ada jeda waktu cukup panjang antara persalinan normal sekitar pukul 08.00 WITA dengan operasi yang menurut keterangan keluarga baru dilakukan sekitar pukul 14.00 WITA. Apa saja tindakan medis yang dilakukan di antara rentang waktu itu, dan bagaimana perkembangan kondisi pasien dari menit ke menit, menjadi pertanyaan yang sangat penting.

Ketiga, apa diagnosis awal tenaga medis sesaat setelah persalinan selesai. Apakah sejak awal sudah dicurigai terjadi robekan rahim, atau justru penanganan mula-mula diarahkan pada dugaan lain seperti sisa darah beku atau penyebab perdarahan lain.

Keempat, apabila benar dilakukan tindakan memasukkan tangan ke dalam rahim sebagaimana diceritakan keluarga, maka perlu dijelaskan secara medis tindakan itu apa namanya, apa indikasinya, siapa yang melakukannya, dan apakah tindakan tersebut sesuai prosedur.

Kelima, bila rumah sakit menyatakan perdarahan terjadi akibat ruptur uterus yang sulit terdeteksi, maka publik berhak mengetahui pada jam berapa kondisi itu mulai dicurigai, kapan dipastikan, dan apa dasar klinis yang dipakai sebelum diputuskan operasi besar hingga angkat kandungan.

Keenam, penyebutan MODS atau MOF sebagai penyebab kematian akhir juga belum otomatis menjawab akar persoalan. Sebab yang ingin diketahui keluarga dan publik bukan hanya mekanisme akhir kematian, melainkan apa penyebab utama yang membuat pasien sampai masuk ke fase gagal multi organ dalam hitungan jam setelah persalinan normal.

Karena itu, kasus ini semestinya tidak berhenti pada bantahan sepihak atau saling klaim di ruang publik. Yang dibutuhkan adalah pembukaan fakta medis secara objektif dan dapat diuji, mulai dari rekam medis lengkap, kronologi penanganan dari jam ke jam, catatan operasi, hasil laboratorium, riwayat transfusi darah, hingga keterangan seluruh tenaga medis yang bertugas saat itu.

Keluarga korban berhak memperoleh penjelasan yang jujur, utuh, dan terang. Sementara rumah sakit juga memiliki kepentingan untuk membuktikan bahwa seluruh tindakan benar-benar dilakukan sesuai standar profesi dan prosedur yang berlaku.

Kini, perhatian publik tertuju pada proses penanganan laporan di kepolisian. Pengusutan yang cermat, independen, dan berbasis dokumen medis akan menjadi kunci untuk menjawab satu pertanyaan besar yakni apakah kematian Farida murni merupakan komplikasi medis yang tak terhindarkan, atau ada kelalaian yang turut berkontribusi dalam rangkaian penanganannya.

  • Penulis: Tatandak.id
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Dibacok Suami Saat Mabuk, Seorang Perempuan Menjalani Perawatan di Puskesmas Totikum

    Diduga Dibacok Suami Saat Mabuk, Seorang Perempuan Menjalani Perawatan di Puskesmas Totikum

    • calendar_month Sel, 7 Apr 2026
    • visibility 2.453
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Seorang perempuan di Desa Kombutokan, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, diduga menjadi korban pembacokan yang dilakukan oleh suaminya sendiri pada Senin malam, 6 April 2026, sekitar pukul 23.00 Wita. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tatandak.id, korban yang diketahui berinisial R sempat dilarikan ke rumah sakit sekitar pukul 00.00 Wita dalam […]

  • Program “Si Ade Kembali ke Sekolah” inovasi Dinas Pendidikan untuk menekan angka putus sekolah di Kababupaten Banggai.

    Program “Si Ade Kembali ke Sekolah” inovasi Dinas Pendidikan untuk menekan angka putus sekolah di Kababupaten Banggai.

    • calendar_month Rab, 16 Jul 2025
    • visibility 715
    • 0Komentar

    LUWUK, tatandak.id – Kabid PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Samsul Bahri Lanta kepada pewarta tatandak.id Sabtu (12/07/2025) menjelasakan melalui program Dinas Pendidikan ingin mengurangi angka putus sekolah. “ADE adalah kepanjangan dari Anak Putus Sekolah (A), Dewasa Tidak Sekolah (D), dan huruf (E) dari kata Sekolah “, kata Samsul sapaan akrabnya. […]

  • Muhammad Saleh Gasin: Jerigen BBM di Bangkep Jangan Dilarang Total, Tapi Harus Ditertibkan Ketat

    Muhammad Saleh Gasin: Jerigen BBM di Bangkep Jangan Dilarang Total, Tapi Harus Ditertibkan Ketat

    • calendar_month Sel, 31 Mar 2026
    • visibility 661
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id  – Persoalan penggunaan jerigen dalam distribusi BBM subsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan dinilai tidak bisa lagi dipandang secara sederhana. Bagi sebagian masyarakat, jerigen memang menjadi alat untuk bertahan hidup, terutama bagi warga desa terpencil yang jauh dari SPBU. Namun di sisi lain, jerigen juga diduga telah berubah menjadi salah satu jalur utama penyimpangan […]

  • Idhar Hasan Somasi Polres Banggai: Penanganan Kasus Kekerasan Anak Dinilai Lalai dan Tidak Profesional

    Idhar Hasan Somasi Polres Banggai: Penanganan Kasus Kekerasan Anak Dinilai Lalai dan Tidak Profesional

    • calendar_month Jum, 2 Jan 2026
    • visibility 1.676
    • 1Komentar

    LUWUK, tatandak.id – Polres Banggai resmi disomasi oleh pihak pelapor dalam kasus dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Somasi ini dilayangkan karena penanganan perkara dinilai tidak profesional, lamban, serta abai terhadap kewajiban hukum dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Kasus yang disorot merupakan perkara tindak pidana kejahatan perlindungan anak dengan korban berinisial MA, warga Kelurahan […]

  • Muhammad Saleh Gasin Ungkap Mengapa Daerah Bisa Berbeda Meski Sistem dan Anggarannya Sama

    Muhammad Saleh Gasin Ungkap Mengapa Daerah Bisa Berbeda Meski Sistem dan Anggarannya Sama

    • calendar_month Sel, 30 Des 2025
    • visibility 1.143
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID – Perbedaan kemajuan antar daerah sering kali menimbulkan pertanyaan publik. Mengapa dengan sistem pemerintahan yang hampir serupa dan alokasi anggaran yang relatif sebanding, hasil pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bisa sangat berbeda? Menjawab fenomena tersebut, praktisi hukum dan pemerhati kebijakan publik, Muhammad Saleh Gasin, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa akar persoalannya bukan semata pada sistem atau […]

  • Almalik: “Jangan Membunuh Kami, Tambang Batu Gamping Mengancam Mata Pencaharian Warga Banggai Kepulauan”

    Almalik: “Jangan Membunuh Kami, Tambang Batu Gamping Mengancam Mata Pencaharian Warga Banggai Kepulauan”

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
    • visibility 456
    • 0Komentar

    BANGKEP (Juni 2026), tatandak.id – Penolakan terhadap rencana dan aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan terus menguat. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemerhati lingkungan, kelompok masyarakat sipil, hingga organisasi kepemudaan, menyuarakan kekhawatiran atas potensi dampak pertambangan terhadap sumber-sumber kehidupan masyarakat. Salah satu suara penolakan datang dari Almalik, selaku Dewan Pertimbangan Organisasi […]

error: Content is protected !!
expand_less