Muhammad Saleh Gasin: Bangkep Tidak Kekurangan Orang yang Tahu Masalah, Tapi Kekurangan Orang yang Mau Ambil Peran
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 648
- comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Advokat dan pegiat sosial Banggai Kepulauan, Muhammad Saleh Gasin, menilai bahwa salah satu persoalan paling mendasar di Banggai Kepulauan hari ini bukan semata-mata karena masyarakat tidak tahu keadaan, melainkan karena terlalu banyak orang yang paham ada yang tidak beres, tetapi terlalu sedikit yang sungguh-sungguh mau mengambil peran untuk memperbaikinya.
Menurut Saleh Gasin, kondisi daerah tidak akan berubah hanya dengan kesadaran diam-diam, keluhan di belakang, atau diskusi yang berhenti di ruang obrolan. Ia menegaskan bahwa daerah hanya bisa bergerak maju jika semakin banyak orang mau keluar dari zona aman, mau peduli, dan mau ikut menanggung risiko sekecil apa pun untuk menjadi bagian dari perbaikan.
“Bangkep ini sebenarnya bukan kekurangan orang yang tahu masalah. Banyak yang paham, banyak yang melihat, banyak yang bisa merasakan ada yang tidak beres. Tapi sayangnya, yang mau benar-benar berdiri, peduli, dan ikut ambil bagian untuk meluruskan masih terlalu sedikit,” ujar Muhammad Saleh Gasin.
Ia menjelaskan, dalam kehidupan daerah, masalah tidak selalu membesar karena pelakunya kuat, tetapi sering kali karena terlalu sedikit orang yang mau menghentikannya. Ketika yang salah terus dibiarkan, yang ganjil dibiasakan, dan yang tidak sehat dianggap biasa, maka pelan-pelan publik akan kehilangan kepekaan. Di titik itulah, kata Saleh Gasin, sebuah daerah mulai masuk dalam keadaan yang berbahaya yakni bukan karena tidak ada aturan, bukan karena tidak ada orang pintar, tetapi karena kepedulian dan keberanian semakin langka.
Bagi Saleh Gasin, publik Bangkep perlu menyadari bahwa mengambil peran tidak selalu berarti harus menjadi pejabat, tokoh besar, atau orang yang paling lantang. Kadang, kata dia, mengambil peran bisa dimulai dari hal yang sederhana yakni berani menyampaikan yang benar, tidak ikut membenarkan yang salah, tidak membungkus pembiaran dengan alasan, serta mau ikut menghidupkan ruang kontrol sosial di tengah masyarakat.
“Yang dibutuhkan Bangkep ini bukan semua orang jadi pahlawan. Tidak. Tapi paling tidak, jangan semua memilih jadi penonton. Karena kalau semua hanya melihat, mengeluh, lalu diam, maka yang tumbuh bukan perubahan, tapi pembiaran,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang terlalu cepat mempersoalkan motif seseorang saat menyampaikan kritik, tetapi kurang berani menyentuh substansi persoalannya. Menurutnya, pola seperti itu justru membuat diskusi publik kehilangan arah, karena energi habis untuk menebak niat orang, bukan untuk menguji isi masalah secara jujur.
“Kalau ada yang menyampaikan sesuatu, uji saja isinya. Benar atau tidak. Relevan atau tidak. Menyentuh masalah nyata atau tidak. Jangan terlalu sibuk urus motif, sementara substansi masalahnya tetap hidup dan terus merugikan masyarakat,” katanya.
Saleh Gasin mengingatkan bahwa daerah tidak rusak hanya karena orang-orang yang berbuat salah, tetapi juga karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam, terlalu banyak orang paham yang memilih aman, dan terlalu banyak orang punya kemampuan yang enggan menanggung risiko untuk memperbaiki.
Karena itu, ia berharap semakin banyak elemen masyarakat Bangkep yakni terutama pemuda, tokoh desa, aparat, unsur partai, birokrat, dan warga biasa untuk mulai mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Sebab menurutnya, tidak semua orang harus berada di dalam sistem untuk membantu daerah. Banyak yang justru bisa berkontribusi dari luar sistem, dengan cara mengingatkan, mengawasi, memberi masukan, dan menjaga agar suara publik tetap hidup.
“Kalau torang betul-betul cinta daerah ini, maka jangan tunggu semua sempurna baru mau bergerak. Jangan tunggu orang lain dulu. Mulai dari yang torang bisa. Ambil peran sekecil apa pun. Karena daerah ini tidak akan berubah oleh orang yang hanya tahu, tapi oleh orang yang tahu lalu mau peduli dan bertindak,” pungkas Muhammad Saleh Gasin.
Di tengah berbagai persoalan yang masih membelit Banggai Kepulauan, pernyataan itu menjadi pengingat keras bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya, tetapi juga oleh keberanian publiknya. Sebab ketika masyarakat berhenti peduli, maka yang salah akan merasa aman. Tetapi ketika semakin banyak orang mulai mengambil peran, di situlah harapan mulai tumbuh.
Dan mungkin, perubahan besar di Banggai Kepulauan memang tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Kadang ia justru dimulai dari satu keputusan sederhana yakni tidak lagi diam saat melihat yang tidak beres.
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id
- Sumber: Muhammad Saleh Gasin

Saat ini belum ada komentar