Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » MENJAGA LAUT DENGAN AIR MATA: KETIKA POPIDOLON BERSEPAKAT KARENA NEGARA TERLELAP

MENJAGA LAUT DENGAN AIR MATA: KETIKA POPIDOLON BERSEPAKAT KARENA NEGARA TERLELAP

  • calendar_month Sab, 29 Agu 2026
  • visibility 316
  • comment 0 komentar

Penulis: Gusti Farel
Ketua KOMPAK Renjala Teluk Kembar, Desa Popidolon, Kecamatan Liang
Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Di saat para pejabat tinggi sibuk berpidato megah tentang kejayaan maritim dan poros laut di panggung-pajang nasional, di perairan Kecamatan Liang, para nelayan kecil dan penggiat konservasi harus bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang ledakan bom ikan yang menghancurkan masa depan anak cucu kami. Lahirnya dokumen Kesepakatan Bersama Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Desa Popidolon pada tanggal 23 Agustus 2026 bukanlah sekadar seremoni seremonial belaka. Bagi kami masyarakat Popidolon, kesepakatan ini adalah sebuah bentuk deklarasi pertahanan diri—sebuah tamparan keras bagi pemerintah yang selama ini lambat, gagap, bahkan terindikasi abai dalam menjaga batas-batas kedaulatan laut kami dari kehancuran ekologis.

Bagaimana kami tidak geram? Ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan kawasan mangrove kami terus digerus oleh keserakahan praktik penangkapan ilegal (destructive fishing) yang kian marak. Sampah dan limbah dibuang tanpa kontrol, sementara nelayan dari luar desa bebas masuk menjarah tanpa memedulikan batas kelestarian perikanan kami. Karena itulah, KOMPAK Renjala Teluk Kembar bersama seluruh elemen masyarakat—Pemerintah Desa, BPD, tokoh adat, kelompok nelayan, perempuan, hingga pemuda—bergerak mandiri. Kami merumuskan wilayah kelola kami sendiri, menetapkan zona Bank Ikan(seperti koordinat lokasi yang telah dipetakan secara partisipatif), dan merancang Area Ketahanan Pangandarurat untuk digunakan pada musim paceklik. Di mana negara selama proses panjang ini? Mereka hanya hadir di ujung meja, membubuhkan tanda tangan formalitas untuk mengetahui sebuah kesepakatan yang kami susun dengan keringat, biaya mandiri, dan pengorbanan komunal.

Kebocoran Identitas Informan: Ketika Penegak Hukum Menjadi Teror

Kritik paling tajam dan memuakkan harus kami arahkan langsung pada mandul dan bobroknya sistem penegakan hukum maritim kita. Dalam audiensi terbuka yang dilaksanakan di Kantor Camat Liang pada 20 Agustus 2026, sebuah borok yang sangat memalukan terbongkar ke permukaan: identitas informan dan pelapor kasus bom ikan bocor langsung ke tangan kolega pelaku! Kebocoran informasi ini terindikasi kuat bersumber dari oknum kepolisian sendiri yang seharusnya menjadi benteng pelindung hukum bagi masyarakat sipil.

Ini adalah pengkhianatan nyata terhadap rasa aman warga negara. Akibat kebocoran tersebut, para saksi, pelapor, dan penggiat konservasi laut seperti rekan-rekan kami di KOMPAK kini diteror dengan ancaman kekerasan fisik dan tindakan intimidasi secara terbuka. Negara tidak hanya abai mengawasi laut kami; oknum di dalam institusi penegak hukumnya justru ikut menodongkan moncong bahaya ke dada warganya sendiri yang sedang berjuang melestarikan alam demi keberlanjutan hidup nelayan kecil di Kecamatan Liang.

Tuntutan Tanpa Kompromi: Bersihkan Institusi dan Tegakkan Hukum!

Melalui tulisan ini, kami mendesak dengan sangat keras kepada Camat Liang, Kapolsek Liang, dan jajaran Polres Banggai Kepulauan agar komitmen bersama yang telah ditandatangani tidak berakhir sebagai pajangan kertas politik tanpa makna di atas meja kerja. Tuntutan kami dari Desa Popidolon sangat tegas dan mutlak:

•  Bersihkan Institusi dari Pengkhianat: Pecat dan proses secara hukum pidana oknum aparat yang membocorkan rahasia serta identitas pelapor dan saksi pelaku bom ikan di wilayah hukum Kecamatan Liang.

•  Proses Hukum Pelaku Teror: Panggil, periksa, dan tindak tegas seluruh pihak yang terbukti mengeluarkan kata-kata ancaman maupun tindakan fisik terhadap saksi, pelapor, dan penggiat konservasi.

•  Wujudkan Aksi Nyata Pengawasan: Dukung secara konkret pengawasan pesisir berbasis masyarakat (Pokmaswas dan KOMPAK) melalui patroli aktif. Jangan biarkan peta partisipatif Bank Ikan yang telah kami sepakati dilanggar begitu saja oleh kapal-kapal penjarah dari luar desa tanpa ada tindakan hukum yang nyata.

Jika negara melalui jajaran aparat penegak hukumnya memilih untuk terus tertidur lelap dalam kelalaian dan kolusi, maka jangan salahkan kami—nelayan kecil, kaum perempuan, tokoh adat, dan generasi pemuda Desa Popidolon—jika kami harus mengambil alih secara penuh kemudi pengawasan laut kami sendiri demi masa depan hidup kami. Bagi kami, laut adalah ruang hidup utama dan jaminan ketahanan pangan; sedangkan bagi oknum penguasa, laut mungkin hanyalah komoditas transaksional belaka.

Negara, bangunlah dari tidur nyenyakmu! Laut Liang tidak butuh janji-janji politik pemanis kertas kesepakatan; laut kami butuh keadilan nyata dan jaminan perlindungan bagi mereka yang rela mati menjaganya tetap biru!

  • Penulis: Gusti Farel
  • Editor: Tatandak.id
  • Sumber: Gusti Farel

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus Dugaan Keracunan MBG di Bangkep, Taufik Hidayat E. Lapasang Kritik Lemahnya Pengawasan

    Kasus Dugaan Keracunan MBG di Bangkep, Taufik Hidayat E. Lapasang Kritik Lemahnya Pengawasan

    • calendar_month Kam, 18 Sep 2025
    • visibility 739
    • 0Komentar

    SALAKAN, tatandak.id – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk meningkatkan gizi pelajar justru menimbulkan masalah serius di Kabupaten Banggai Kepulauan. Sedikitnya 200 lebih siswa SMP, SMA, dan SMK di Kota Salakan dilaporkan mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut pada Rabu (17/09/2025). Para korban mengalami gejala muntah-muntah, diare, serta sakit […]

  • Diduga Salurkan BBM Pakai Drum, SPBU Buko Tak Menjawab Saat Ditanya

    Diduga Salurkan BBM Pakai Drum, SPBU Buko Tak Menjawab Saat Ditanya

    • calendar_month Jum, 26 Sep 2025
    • visibility 425
    • 0Komentar

    BUKO, tatandak.id – SPBU Buko di Desa Labasiano kembali jadi sorotan publik. Warga menuding penyaluran bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Keluhan masyarakat menyebut distribusi BBM kerap langka, solar dibatasi hanya 20 liter per kendaraan, bahkan diduga tidak menggunakan nozzle, melainkan ditumpahkan ke drum. Sorotan semakin tajam karena dalam rapat Pemerintah […]

  • Temukan 29 Pajeko di Kawasan Konservasi Banggai, Nelayan Liang Desak Penertiban

    Temukan 29 Pajeko di Kawasan Konservasi Banggai, Nelayan Liang Desak Penertiban

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2026
    • visibility 226
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Masyarakat nelayan Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah segera melakukan penertiban terhadap aktivitas kapal purse seine atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai pajeko di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Banggai Area XII. Desakan itu disampaikan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi […]

  • H. Sulaeman Husen: Karst Banggai Kepulauan Harus Dilindungi, Bukan Dikorbankan untuk Tambang Batu Gamping

    H. Sulaeman Husen: Karst Banggai Kepulauan Harus Dilindungi, Bukan Dikorbankan untuk Tambang Batu Gamping

    • calendar_month Sel, 5 Mei 2026
    • visibility 256
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Isu penolakan terhadap rencana masuknya tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan semakin masif bergulir di tengah masyarakat pada April 2026. Gelombang penolakan itu juga disuarakan mahasiswa Banggai Kepulauan yang tergabung dalam organisasi IPBK Palu. Mahasiswa IPBK Palu bahkan mengajak seluruh pemuda Banggai Kepulauan yang berada di Kota Palu untuk mengikuti aksi […]

  • Kasus Dugaan Pencabulan dan Penyebaran Konten Asusila Anak di Totikum Selatan Kembali Berproses, Muhammad Saleh Gasin Beri Edukasi Hukum kepada Para Pihak dan Masyarakat

    Kasus Dugaan Pencabulan dan Penyebaran Konten Asusila Anak di Totikum Selatan Kembali Berproses, Muhammad Saleh Gasin Beri Edukasi Hukum kepada Para Pihak dan Masyarakat

    • calendar_month Rab, 7 Okt 2026
    • visibility 119
    • 0Komentar

    BANGKEP (08/10/2026), tatandak.id – Perkara dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur disertai dugaan penyebaran konten bermuatan asusila melalui media elektronik yang terjadi di wilayah Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, kembali menjadi perhatian masyarakat. Perkara yang sebelumnya telah ditangani aparat kepolisian tersebut kini ditegaskan oleh Polres Banggai Kepulauan masih dalam proses hukum dan tidak […]

  • ATM Kosong Saat Wisatawan Asing Membutuhkan Uang Tunai, Pelayanan Perbankan di Banggai Kepulauan Perlu Diperhatikan

    ATM Kosong Saat Wisatawan Asing Membutuhkan Uang Tunai, Pelayanan Perbankan di Banggai Kepulauan Perlu Diperhatikan

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2026
    • visibility 144
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Banggai Kepulauan perlu diikuti dengan kesiapan berbagai fasilitas pendukung pariwisata, termasuk layanan perbankan dan ketersediaan uang tunai melalui mesin ATM. Keluhan terkait layanan ATM kembali dirasakan sejumlah wisatawan asing dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi kenyamanan wisatawan […]

error: Content is protected !!
expand_less