Masyarakat Keluhkan Tidak Ada Kapal Pengganti Saat Feri Saiyong-Luwuk Docking, Aktivitas Ekonomi Bangkep Terganggu
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 66
- comment 0 komentar

BANGKEP (30/05/2026), tatandak.id – Masyarakat Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) mengeluhkan tidak adanya kapal pengganti selama kapal feri yang melayani lintasan Pelabuhan Saiyong-Luwuk menjalani docking. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar satu bulan dan berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi serta mobilitas masyarakat.
Sejumlah warga menilai ketiadaan kapal pengganti membuat distribusi hasil bumi keluar daerah mengalami hambatan. Salah satu komoditas yang terdampak adalah kelapa biji, yang selama ini menjadi sumber pendapatan masyarakat. Akibat terbatasnya akses transportasi laut, sebagian pembeli dilaporkan memilih mencari pasokan dari daerah lain karena kesulitan melakukan pengiriman dari Bangkep.
Tidak hanya petani dan pelaku usaha, para sopir angkutan juga mengaku merasakan dampak langsung dari terhentinya layanan feri tersebut. Mereka mengaku kehilangan sumber pendapatan karena berkurangnya aktivitas pengangkutan barang dan penumpang selama kapal menjalani docking.
“Sudah hampir satu bulan tidak ada pemasukan. Aktivitas angkutan sepi karena distribusi barang terganggu,” ungkap salah seorang warga yang mewakili keluhan masyarakat.
Warga juga mengeluhkan kenaikan biaya pengiriman barang. Karena tidak tersedia kapal feri pengganti, sebagian barang terpaksa diangkut menggunakan kapal penumpang dengan biaya yang lebih tinggi. Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran.
Menurut keterangan masyarakat, barang yang sebelumnya dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp60 ribu kini dijual hingga Rp80 ribu akibat meningkatnya biaya transportasi dan distribusi.
Masyarakat menilai persoalan ini seharusnya dapat diantisipasi sejak jauh hari oleh pihak terkait. Mereka berharap pemerintah daerah maupun instansi yang berwenang dapat menyiapkan langkah mitigasi ketika kapal feri utama harus menjalani docking, termasuk menyediakan kapal pengganti agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tidak terganggu.
“Dampaknya sangat luas, mulai dari petani, pedagang, sopir angkutan hingga masyarakat umum. Karena itu pemerintah diharapkan lebih sigap mengantisipasi situasi seperti ini agar tidak kembali terulang,” ujar seorang warga.
Hingga berita ini ditulis, masyarakat masih menantikan solusi konkret terkait penyediaan transportasi penyeberangan yang memadai guna menjaga kelancaran distribusi barang, hasil bumi, serta kebutuhan masyarakat Banggai Kepulauan.
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id

Saat ini belum ada komentar