Ironi di Negeri Laut: Program MBG di Banggai Kepulauan Lebih Banyak Sajikan Ayam daripada Ikan, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Bangkep Angkat Suara
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 35
- comment 0 komentar
BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi simbol keberpihakan pada potensi lokal justru memunculkan ironi di daerah kepulauan. Di wilayah yang dikenal sebagai salah satu lumbung ikan di Sulawesi Tengah, menu MBG justru lebih didominasi ayam potong, sementara ikan yang menjadi identitas dan kekuatan daerah, nyaris tak terlihat dalam sajian.
Sorotan keras datang dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Banggai Kepulauan. Ketua KNTI Bangkep, Doni Setiawan, menilai penyusunan menu MBG tidak mencerminkan realitas geografis daerah yang dikelilingi laut dan kaya akan hasil perikanan.
“Ironis. Kita ini daerah penghasil ikan, tapi justru ayam potong yang lebih dominan dalam program pemerintah. Ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah potensi lokal benar-benar diperhitungkan?” ujarnya.
Banggai Kepulauan merupakan wilayah kepulauan dengan sekitar 75 persen wilayahnya berupa laut. Ibu kota kabupaten, Salakan, bahkan dikenal luas sebagai kota ikan, sebuah identitas yang lahir dari sejarah panjang kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.
Namun dalam pelaksanaan MBG belakangan ini, realitas tersebut seolah terbalik. Menu ikan justru jarang muncul, sementara ayam potong menjadi menu yang lebih sering disajikan. Kondisi ini memunculkan kesan bahwa program nasional tersebut berjalan tanpa mempertimbangkan karakter dan kekuatan pangan lokal.
Sekretaris KNTI Bangkep, Kaharudin, yang akrab disapa Agung, menilai penggunaan ikan dalam program MBG bukan sekadar soal menu, tetapi soal keberpihakan pada identitas dan ekonomi daerah.
“Ikan bukan hanya makanan di sini, tapi bagian dari kehidupan masyarakat. Jika program pemerintah justru mengabaikan itu, maka ada jarak antara kebijakan dan realitas di lapangan,” ungkapnya.
Program MBG pada dasarnya dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun di daerah kepulauan seperti Banggai Kepulauan, masyarakat berharap program tersebut juga menjadi ruang pemberdayaan potensi lokal, bukan justru menghadirkan bahan pangan yang secara geografis bukan kekuatan utama daerah.
Dominasi ayam potong dalam menu MBG dinilai bukan hanya mengabaikan identitas daerah, tetapi juga melewatkan peluang untuk memperkuat ekonomi nelayan lokal yang selama ini menjadi tulang punggung wilayah kepulauan.
KNTI Bangkep mendesak adanya evaluasi serius terhadap penyusunan menu MBG agar lebih selaras dengan karakter wilayah kepulauan. Menurut mereka, memasukkan ikan sebagai menu utama bukan hanya relevan secara geografis, tetapi juga logis secara ekonomi dan sosial.
Program pemerintah, menurut KNTI, seharusnya tidak hadir sebagai konsep yang seragam di semua wilayah, melainkan mampu beradaptasi dengan potensi dan identitas daerah.
Di tengah laut yang melimpah ikan, masyarakat kini bertanya: mengapa justru ayam yang lebih sering hadir di piring anak-anak, sementara kekayaan laut sendiri seperti diabaikan?
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id


Saat ini belum ada komentar