Andi Pianto: Tambang Batu Gamping Bukan Jalan Kesejahteraan, Pariwisata Masa Depan Banggai Kepulauan
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Wacana pengembangan tambang batu gamping di wilayah Banggai Kepulauan kembali menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai sektor pertambangan bukan solusi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat, melainkan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan dan masa depan ekonomi daerah yang selama ini bertumpu pada kekayaan alam dan laut.
Salah satu suara penolakan datang dari Andi Pianto, putra asli Banggai Kepulauan yang kini menahkodai Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Banggai Laut. Ia menegaskan bahwa masa depan Banggai Kepulauan seharusnya dibangun melalui pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan, bukan eksploitasi tambang batu gamping.
“Banggai Kepulauan memiliki kekayaan alam luar biasa yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Laut yang indah, pantai berpasir putih, terumbu karang, budaya masyarakat, semuanya adalah aset besar untuk masa depan. Kalau lingkungan rusak karena tambang, maka yang hilang bukan hanya alam, tetapi juga sumber kehidupan masyarakat,” ujar Andi Pianto.
Menurutnya, aktivitas tambang batu gamping berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan yang besar dan sulit dipulihkan. Mulai dari pembukaan lahan, pengerukan kawasan karst, hingga sedimentasi yang dapat merusak ekosistem laut di sekitar wilayah pesisir.
Ia menjelaskan, sebagian besar masyarakat Banggai Kepulauan menggantungkan hidup pada hasil laut dan sumber daya alam yang sehat. Karena itu, keberadaan tambang dinilai justru dapat mengancam mata pencaharian masyarakat nelayan dan pelaku usaha kecil di sektor pariwisata.
“Lumpur dan limbah tambang bisa mencemari laut, merusak terumbu karang, dan mematikan habitat ikan. Kalau ekosistem laut rusak, masyarakat pesisir yang pertama kali merasakan dampaknya,” katanya.
Andi Pianto juga menilai manfaat ekonomi dari tambang batu gamping bersifat sementara. Ia menyebut lapangan kerja yang tercipta tidak sebanding dengan risiko kerusakan lingkungan dan hilangnya potensi ekonomi jangka panjang.
“Tambang hanya berlangsung selama cadangan masih ada. Setelah habis, yang tersisa hanyalah lahan rusak dan kerugian lingkungan. Sementara pariwisata bisa menjadi sumber ekonomi yang terus hidup jika dikelola dengan baik,” tegasnya.
Ia menilai Banggai Kepulauan memiliki peluang besar menjadi destinasi wisata unggulan di Sulawesi bahkan Indonesia Timur. Keindahan bawah laut, pulau-pulau eksotis, serta kekayaan budaya lokal dinilai mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain itu, pengembangan pariwisata diyakini mampu menciptakan lapangan kerja lebih luas bagi masyarakat. Mulai dari sektor transportasi, penginapan, kuliner, jasa wisata, hingga produk kerajinan lokal.
“Pariwisata memberikan manfaat yang lebih merata. Nelayan bisa menjadi pemandu wisata, anak muda bisa membuka usaha kreatif, masyarakat bisa terlibat langsung menjaga dan menikmati hasil dari alam mereka sendiri,” ujarnya.
Andi Pianto berharap pemerintah daerah lebih bijak dalam menentukan arah pembangunan Banggai Kepulauan. Ia meminta potensi pariwisata dan kelestarian lingkungan dijadikan prioritas utama demi keberlanjutan ekonomi masyarakat.
“Kesejahteraan sejati bukan soal seberapa cepat kita menghabiskan sumber daya alam, tetapi bagaimana kita menjaga dan mengelolanya untuk generasi mendatang. Masa depan Banggai Kepulauan ada pada lautnya yang indah, bukan pada lubang tambang,” pungkasnya.
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id

Saat ini belum ada komentar