Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » LINGKUNGAN » ZULKIFLI LAMASANA: KETIKA HUTAN MERINTIH, DI MANA SUARA ADAT PARIGI MOUTONG ?

ZULKIFLI LAMASANA: KETIKA HUTAN MERINTIH, DI MANA SUARA ADAT PARIGI MOUTONG ?

  • calendar_month Ming, 6 Sep 2026
  • visibility 184
  • comment 0 komentar

Menanti Patanggota, Tialo, Lauje, Tajio, dan para pemangku adat berdiri menjaga tanah, hutan, sungai, serta air yang diwariskan leluhur

Oleh : Zulkifli Lamasana, SH., CVM

Ketua Umum Perkumpulan Paralegal dan Penggiat Desa (PAPEDA)

Dahulu, leluhur tidak mengenal istilah AMDAL, reklamasi, atau pemulihan lingkungan. Tetapi mereka memahami sesuatu yang sangat mendasar : tanah harus dijaga, hutan tidak boleh diperlakukan semaunya, dan air adalah sumber kehidupan.

Hari ini, ketika sejumlah wilayah Parigi Moutong menghadapi persoalan pertambangan dan PETI, suara mesin terdengar sampai ke hulu. Tanah terbuka, hutan mendapat tekanan, sementara erosi dan sedimentasi dapat membawa dampaknya melalui sungai hingga ke sawah dan kehidupan masyarakat di hilir.

Di tengah keadaan itu, sebuah pertanyaan patut diajukan:

Di mana suara lembaga-lembaga adat kita ?

Parigi Moutong memiliki kekayaan adat yang besar. Ada Patanggota Parigi, Olongian Tialo, masyarakat adat Lauje dan Tajio, berbagai kelembagaan adat Kaili, serta lembaga adat di desa-desa. Mereka adalah penjaga ingatan kolektif masyarakat tentang tanah, hubungan sosial, tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi.

Adat tentu bukan hanya pakaian, tarian dan seremoni penyambutan pejabat.

Adat adalah nilai.  Adat adalah ingatan. Adat adalah penjaga batas antara kebutuhan manusia dan keserakahan.

Konstitusi pun menghormati keberadaan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya melalui Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945. Hukum lingkungan Indonesia juga menempatkan kearifan lokal sebagai salah satu asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan.

Karena itu, sudah waktunya lembaga adat Parigi Moutong kembali berbicara tentang persoalan yang sangat mendasar : tanah, hutan, sungai dan air.

Bukan untuk menggantikan pemerintah atau aparat penegak hukum.  Bukan pula untuk menyatakan bahwa setiap kegiatan pertambangan harus ditolak.

Tetapi adat harus berani mengingatkan bahwa alam bukan milik satu generasi.

Tanah yang kita pijak hari ini pernah dijaga oleh mereka yang telah meninggal. Sungai yang kita minum hari ini juga akan dibutuhkan oleh mereka yang bahkan belum dilahirkan.

Di situlah tanggung jawab antargenerasi menemukan maknanya.

Kita perlu mendengar kembali para tetua: Apa pesan leluhur tentang hutan ?, Bagaimana adat memperlakukan sungai dan sumber air ?, Apa batas manusia dalam mengambil hasil bumi ?,  dan apa kewajiban seseorang ketika tindakannya merugikan kehidupan orang banyak ?

Jawaban atas pertanyaan itu seharusnya digali, didokumentasikan, dan diwariskan kembali kepada generasi muda.

Sebab jangan sampai suatu hari anak cucu kita berdiri di hadapan sungai yang rusak dan bertanya:

“Ketika hutan mulai hilang dan air kami mulai terancam, mengapa para pewaris adat hanya diam ?”

Hutan tidak bisa datang mengadu.

Sungai tidak bisa menghadiri rapat.

Anak cucu yang belum lahir pun belum mampu mempertahankan hak mereka.

Maka ketika hutan merintih, adat harus bersuara. Ketika sungai terhimpit, masyarakat harus berdiri.

Jangan biarkan adat hanya hidup dalam upacara.

Biarkan adat hidup ketika tanah leluhur memanggil.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan generasi kita mungkin bukan berapa banyak emas yang berhasil dikeluarkan dari bumi Parigi Moutong, melainkan apakah ketika semuanya selesai, anak cucu kita masih mempunyai hutan yang hijau, tanah yang subur, dan sungai yang mengalir jernih.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Danramil Baru Koramil 1308-11/Liang Gelar Jam Komandan Perdana, Tegaskan Disiplin dan Peran Babinsa

    Danramil Baru Koramil 1308-11/Liang Gelar Jam Komandan Perdana, Tegaskan Disiplin dan Peran Babinsa

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
    • visibility 258
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Komandan Koramil (Danramil) 1308-11/Liang yang baru, Kapten Inf Irba R. Nawawi, menggelar kegiatan pertemuan, perkenalan, dan Jam Komandan perdana bersama seluruh personel Koramil 1308-11/Liang, Selasa (2/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Makoramil 1308-11/Liang, Desa Liang, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, dimulai pukul 07.00 WITA dan menjadi momentum penting dalam memperkuat soliditas internal […]

  • “Guru, Pelita yang Tak Pernah Padam”

    “Guru, Pelita yang Tak Pernah Padam”

    • calendar_month Kam, 22 Okt 2026
    • visibility 83
    • 0Komentar

    LUWUK, tatandak.id – “Guru adalah Pelita” judul dari storytelling yang dinarasikan oleh Kartika Dwi Jayarni, guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMPN 3 Luwuk yang akrab disapa Ibu Ikha. Di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusaka) Kabupaten Banggai, sebagai salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam Festival Literasi Banggai. Kamis, 22 Oktober 2026 Judul sederhana itu […]

  • Rekrutmen PPPK Bangkep Diwarnai Skandal: 17 SK Ditahan, Ada yang Nyaleg, Ada yang Tak Layak, hingga Rangkap Jabatan

    Rekrutmen PPPK Bangkep Diwarnai Skandal: 17 SK Ditahan, Ada yang Nyaleg, Ada yang Tak Layak, hingga Rangkap Jabatan

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2025
    • visibility 2.057
    • 0Komentar

    SALAKAN, tatandak.id – Polemik dugaan kecurangan dalam seleksi administrasi dan PPPK tahap 1 di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) mulai berdampak nyata. Hari ini, Selasa (10/06/2025), dalam kegiatan Penyerahan SK Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sebanyak 17 orang peserta PPPK dilaporkan belum menerima SK pengangkatan mereka. Penundaan ini dibenarkan […]

  • Irfan Kahar: Jangan Jadikan Banggai Kepulauan Korban Ekonomi Ekstraktif

    Irfan Kahar: Jangan Jadikan Banggai Kepulauan Korban Ekonomi Ekstraktif

    • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
    • visibility 193
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Gelombang penolakan masyarakat terhadap rencana aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) bukanlah bentuk sikap anti investasi. Penolakan ini lahir dari kesadaran kolektif masyarakat yang mulai memahami bahwa eksploitasi sumber daya alam tanpa arah pembangunan yang jelas hanya akan melahirkan ketimpangan, kerusakan ekologis, dan penderitaan sosial dalam jangka panjang. Menurut […]

  • Gotong Royong Tanpa Batas Status: Warga Totikum Bersatu Bangun Jalan Demi Kenyamanan Bersama

    Gotong Royong Tanpa Batas Status: Warga Totikum Bersatu Bangun Jalan Demi Kenyamanan Bersama

    • calendar_month Sab, 26 Jul 2025
    • visibility 794
    • 0Komentar

    TOTIKUM, tatandak.id – Dalam semangat kebersamaan yang luar biasa, warga Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan, telah menunjukkan bahwa perbedaan status sosial tidak menjadi halangan untuk berkontribusi pada kebaikan bersama. Mulai dari pegawai kantoran, PNS, pengacara, pengusaha, hingga penegak hukum, semua turun tangan tanpa memandang profesi atau jabatan. Semua satu tujuan yakni memperbaiki jalan yang rusak […]

  • Kevin Lapendos Temui Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan, Desak Penuntasan Dugaan Penyimpangan Desa Kalumbatan hingga Polemik Kampung Nelayan

    Kevin Lapendos Temui Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan, Desak Penuntasan Dugaan Penyimpangan Desa Kalumbatan hingga Polemik Kampung Nelayan

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2026
    • visibility 327
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Berbagai persoalan yang mencuat di Desa Kalumbatan akhirnya mendapat perhatian langsung dari Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan. Koordinator Aliansi Pemuda Kalumbatan, Kevin Lapendos, diterima oleh Bupati Banggai Kepulauan Rusli Moidady dan Wakil Bupati Serfi Kambey dalam audiensi yang berlangsung di Kantor Bupati, Senin (15/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Aliansi Pemuda […]

error: Content is protected !!
expand_less