Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » LINGKUNGAN » Irfan Kahar: Jangan Jadikan Banggai Kepulauan Korban Ekonomi Ekstraktif

Irfan Kahar: Jangan Jadikan Banggai Kepulauan Korban Ekonomi Ekstraktif

  • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
  • visibility 179
  • comment 0 komentar

BANGKEP, tatandak.id – Gelombang penolakan masyarakat terhadap rencana aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) bukanlah bentuk sikap anti investasi. Penolakan ini lahir dari kesadaran kolektif masyarakat yang mulai memahami bahwa eksploitasi sumber daya alam tanpa arah pembangunan yang jelas hanya akan melahirkan ketimpangan, kerusakan ekologis, dan penderitaan sosial dalam jangka panjang.

Menurut Irfan Kahar, Bangkep bukan wilayah kosong yang bisa dipandang hanya sebagai hamparan sumber daya untuk dikeruk dan dijual keluar daerah. Bangkep adalah ruang hidup masyarakat kepulauan yang memiliki sejarah, budaya, ekosistem, wilayah tangkap nelayan, sumber air, kawasan karst, serta masa depan generasi muda yang wajib dilindungi.

“Bangkep bukan tanah kosong. Ini rumah hidup masyarakat kepulauan. Jangan atas nama investasi, ruang hidup rakyat justru dikorbankan demi kepentingan segelintir elite dan pemodal,” tegas Irfan Kahar.

Ia menilai, pola ekonomi ekstraktif yang selama ini dipertahankan hanya menciptakan ketimpangan. Batu gamping diambil dari tanah Bangkep, namun nilai tambah ekonominya justru dinikmati industri besar di luar daerah. Sementara masyarakat lokal hanya menerima dampak buruk seperti debu, jalan rusak, ancaman banjir, kerusakan lingkungan, hingga konflik sosial.

Padahal, semangat hilirisasi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU Minerba. Negara seharusnya mendorong pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat langsung bagi daerah penghasil, bukan sekadar menjadikan daerah sebagai lokasi pengerukan bahan mentah.

Irfan juga menyoroti fakta bahwa industri pertambangan batu gamping merupakan sektor padat modal, bukan padat karya. Artinya, kebutuhan tenaga kerja lokal sangat terbatas karena lebih banyak menggunakan alat berat dan teknologi mekanis.

“Janji pembukaan lapangan kerja besar-besaran sering kali hanya menjadi narasi pemanis untuk meredam penolakan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, risiko ekologis yang dihadapi Bangkep dinilai sangat serius. Sebagai wilayah kepulauan kecil, daya dukung lingkungan Bangkep memiliki keterbatasan. Kerusakan kawasan karst akibat eksploitasi besar-besaran dapat berdampak panjang terhadap cadangan air tanah, ekosistem pesisir, sedimentasi laut, hingga wilayah tangkap nelayan tradisional.

Lebih jauh, Irfan mempertanyakan minimnya keterbukaan informasi kepada masyarakat terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), peta konsesi, potensi kerusakan ekologis, hingga skema pemulihan pascatambang.

“Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui apa dampak yang akan mereka hadapi. Jangan ada aktivitas besar yang mengubah wajah ruang hidup rakyat tanpa transparansi penuh kepada publik,” katanya.

Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak terjebak pada ilusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) jangka pendek. Banyak daerah penghasil tambang di Indonesia justru mengalami paradoks kemiskinan di tengah kekayaan alam melimpah.

Fenomena ini dikenal sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam, di mana kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan ketimpangan ekonomi justru menjadi warisan utama dari aktivitas pertambangan.

Menurut Irfan, arah pembangunan Bangkep seharusnya bertumpu pada sektor yang lebih berkelanjutan seperti perikanan, kelautan, pertanian rakyat, dan pariwisata berbasis ekologi yang mampu diwariskan lintas generasi.

Karena itu, ia menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak moral dan konstitusional untuk menolak investasi tambang apabila hanya menghadirkan eksploitasi bahan mentah tanpa hilirisasi, tanpa perlindungan ekologis yang ketat, tanpa keterlibatan masyarakat, serta tanpa jaminan kesejahteraan jangka panjang.

“Masyarakat Bangkep bukan penghalang pembangunan. Justru masyarakat sedang berjuang memastikan bahwa pembangunan tidak berubah menjadi legitimasi penghancuran ruang hidup,” tutup Irfan Kahar.

“Bangkep bukan sekadar hamparan batu gamping yang siap dikeruk. Bangkep adalah rumah hidup masyarakat kepulauan yang wajib dijaga dengan keadilan ekologis, keadilan ekonomi, dan keberpihakan terhadap generasi masa depan.”

  • Penulis: Tatandak.id
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perusda Bangkep: Kapal Besar yang Tak Kunjung Berlayar

    Perusda Bangkep: Kapal Besar yang Tak Kunjung Berlayar

    • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
    • visibility 1.007
    • 0Komentar

    Oleh: HENDRO ARIBOWO Di tengah limpahan kekayaan alam dan budaya Banggai Kepulauan, kita dihadapkan pada ironi yang menyesakkan. Potensi melimpah, tapi Pendapatan Asli Daerah (PAD) jalan di tempat. Kita memiliki laut yang luas, tanah yang subur, dan daya tarik wisata yang memukau, tapi tetap saja kita bergantung pada sumber pemasukan yang itu-itu saja. Di tengah […]

  • Orang Tua Riyan Nugraha Bertemu Kapolda Sulteng: Harapan Keadilan Terus Digelorakan

    Orang Tua Riyan Nugraha Bertemu Kapolda Sulteng: Harapan Keadilan Terus Digelorakan

    • calendar_month Sel, 3 Jun 2025
    • visibility 1.749
    • 0Komentar

    PALU, tatandak.id – Orang tua Riyan Nugraha, yaitu Harun Hasan dan Sunarti La Naa, bertemu dengan Kapolda Sulteng, Irjen Pol. Dr. Agus Nugroho, dalam sebuah audiensi yang berlangsung di kantor Polda Sulteng. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana penuh harapan, dengan keluarga korban mengungkapkan keinginan mereka untuk mendapatkan keadilan yang setimpal atas kematian anak mereka yang […]

  • Muhammad Saleh Gasin Ungkap Mengapa Daerah Bisa Berbeda Meski Sistem dan Anggarannya Sama

    Muhammad Saleh Gasin Ungkap Mengapa Daerah Bisa Berbeda Meski Sistem dan Anggarannya Sama

    • calendar_month Sel, 30 Des 2025
    • visibility 1.143
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID – Perbedaan kemajuan antar daerah sering kali menimbulkan pertanyaan publik. Mengapa dengan sistem pemerintahan yang hampir serupa dan alokasi anggaran yang relatif sebanding, hasil pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bisa sangat berbeda? Menjawab fenomena tersebut, praktisi hukum dan pemerhati kebijakan publik, Muhammad Saleh Gasin, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa akar persoalannya bukan semata pada sistem atau […]

  • Aksi IPBK Berbuah Sikap DPRD: Karst Banggai Kepulauan Tak Boleh Dikorbankan

    Aksi IPBK Berbuah Sikap DPRD: Karst Banggai Kepulauan Tak Boleh Dikorbankan

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • visibility 461
    • 0Komentar

    PALU, tatandak.id – Aksi demonstrasi Ikatan Pemuda Banggai Kepulauan (IPBK) Palu, Sulawesi Tengah, terhadap aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan mulai membuahkan hasil. Suara penolakan yang disampaikan mahasiswa dan pemuda Banggai Kepulauan di depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tengah mendapat respons serius melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Sulteng pada 28 […]

  • MENJAGA LAUT DENGAN AIR MATA: KETIKA POPIDOLON BERSEPAKAT KARENA NEGARA TERLELAP

    MENJAGA LAUT DENGAN AIR MATA: KETIKA POPIDOLON BERSEPAKAT KARENA NEGARA TERLELAP

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2026
    • visibility 315
    • 0Komentar

    Penulis: Gusti Farel Ketua KOMPAK Renjala Teluk Kembar, Desa Popidolon, Kecamatan Liang Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Di saat para pejabat tinggi sibuk berpidato megah tentang kejayaan maritim dan poros laut di panggung-pajang nasional, di perairan Kecamatan Liang, para nelayan kecil dan penggiat konservasi harus bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang ledakan bom ikan yang menghancurkan […]

  • Rakyat Tidak Boleh Takut, Muhammad Saleh Gasin Dorong Warga Banggai Kepulauan Berani Bersuara

    Rakyat Tidak Boleh Takut, Muhammad Saleh Gasin Dorong Warga Banggai Kepulauan Berani Bersuara

    • calendar_month Kam, 26 Mar 2026
    • visibility 383
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Masalah di daerah bukan karena tidak ada yang tahu, tapi karena terlalu banyak yang memilih diam. Muhammad Saleh Gasin menilai, sikap takut dan masa bodoh justru menjadi pintu utama suburnya berbagai penyimpangan dan pelanggaran di Banggai Kepulauan. “Masalah terbesar kita bukan pelanggarannya, tapi diamnya masyarakat. Semua tahu, tapi tidak ada yang mau […]

error: Content is protected !!
expand_less