Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » EKONOMI & BISNIS » Irwanto Diasa: “Bangkep Bukan Krisis Lapangan Kerja, Tapi Krisis Hilirisasi dan Peluang Usaha”

Irwanto Diasa: “Bangkep Bukan Krisis Lapangan Kerja, Tapi Krisis Hilirisasi dan Peluang Usaha”

  • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
  • visibility 240
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.idIsu mengenai krisis lapangan pekerjaan di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) belakangan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Namun, berdasarkan analisis data ketenagakerjaan terbaru, kondisi riil di daerah kepulauan tersebut justru menunjukkan fakta yang berbeda.

Tokoh masyarakat sekaligus narasumber dalam podcast sosial ekonomi daerah, Irwanto Diasa, menilai bahwa Bangkep sebenarnya tidak sedang mengalami krisis lapangan kerja, melainkan menghadapi tantangan dalam pengembangan sektor produktif dan penciptaan nilai tambah ekonomi masyarakat.

“Kalau melihat data yang ada, Bangkep bukan kekurangan pekerjaan. Yang terjadi adalah mayoritas masyarakat bekerja di sektor informal, pertanian, nelayan, dan usaha mandiri. Persoalannya ada pada hilirisasi dan penguatan ekonomi lokal,” ujar Irwanto Diasa.

Berdasarkan proyeksi indikator makro Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah Penduduk Usia Kerja (PUK) di Bangkep berada pada kisaran 85 ribu hingga 90 ribu jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 66 ribu hingga 68 ribu jiwa masuk dalam kategori angkatan kerja aktif dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 73 hingga 75 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Bangkep tetap aktif dalam kegiatan ekonomi, meskipun tidak seluruhnya berada pada sektor formal pemerintahan maupun industri besar.

Sektor pertanian, perikanan, dan kelautan masih menjadi tulang punggung utama ekonomi masyarakat dengan daya serap tenaga kerja mencapai 31 ribu hingga 33 ribu jiwa. Masyarakat menggantungkan hidup sebagai petani ubi Banggai, petani kopra, cengkih, hingga nelayan tradisional.

Selain itu, sektor wirausaha mandiri seperti UMKM, pedagang pasar, dan warung kelontong juga menyerap sekitar 15 ribu hingga 17 ribu tenaga kerja lokal.

Sementara sektor jasa, perdagangan, dan transportasi menampung sekitar 12 ribu hingga 14 ribu pekerja, termasuk sopir angkutan, pekerja pelabuhan, tenaga honorer, hingga pekerja konstruksi.

Di sisi lain, sektor formal seperti ASN, TNI, dan Polri hanya mampu menyerap sekitar 4.500 hingga 5.000 tenaga kerja.

Irwanto Diasa menilai rendahnya ketergantungan masyarakat terhadap sektor formal menjadi ciri khas daerah kepulauan seperti Bangkep.

“Masyarakat Bangkep punya sistem bertahan hidup yang kuat. Ketika tidak bekerja formal, mereka kembali ke kebun, melaut, atau membantu usaha keluarga. Ini yang membuat tingkat pengangguran terbuka kita tetap rendah,” jelasnya.

Bahkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bangkep tercatat hanya berada di kisaran 2,1 hingga 2,8 persen, termasuk salah satu yang terendah di Sulawesi Tengah.

Meski demikian, Irwanto menekankan bahwa pemerintah daerah tetap perlu mendorong revitalisasi sektor produksi dan pengembangan industri berbasis lokal agar potensi ekonomi Bangkep tidak hanya berhenti pada produksi mentah.

“Yang harus diperkuat sekarang adalah inovasi, hilirisasi produk lokal, dan peningkatan kualitas SDM. Kalau itu dilakukan serius, Bangkep bisa menjadi daerah mandiri dengan ekonomi yang jauh lebih kuat,” tutup Irwanto Diasa.

  • Penulis: Tatandak.id
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Irfan Kahar: Jangan Jadikan Banggai Kepulauan Korban Ekonomi Ekstraktif

    Irfan Kahar: Jangan Jadikan Banggai Kepulauan Korban Ekonomi Ekstraktif

    • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
    • visibility 134
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Gelombang penolakan masyarakat terhadap rencana aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) bukanlah bentuk sikap anti investasi. Penolakan ini lahir dari kesadaran kolektif masyarakat yang mulai memahami bahwa eksploitasi sumber daya alam tanpa arah pembangunan yang jelas hanya akan melahirkan ketimpangan, kerusakan ekologis, dan penderitaan sosial dalam jangka panjang. Menurut […]

  • Sahrial Mori: “Haruskah Ribuan Warga Bangkep Jadi Korban Demi PAD? Gunung yang Hilang, Kehidupan yang Terancam”

    Sahrial Mori: “Haruskah Ribuan Warga Bangkep Jadi Korban Demi PAD? Gunung yang Hilang, Kehidupan yang Terancam”

    • calendar_month Ming, 31 Mei 2026
    • visibility 161
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Rencana aktivitas tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) kembali menuai penolakan dari berbagai kalangan masyarakat. Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan ancaman terhadap sumber kehidupan warga menjadi alasan utama munculnya gelombang penolakan tersebut. Tokoh masyarakat Bangkep, Sahrial Mori, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lingkungan hidup dan keselamatan […]

  • Masyarakat Keluhkan Tidak Ada Kapal Pengganti Saat Feri Saiyong-Luwuk Docking, Aktivitas Ekonomi Bangkep Terganggu

    Masyarakat Keluhkan Tidak Ada Kapal Pengganti Saat Feri Saiyong-Luwuk Docking, Aktivitas Ekonomi Bangkep Terganggu

    • calendar_month Sab, 30 Mei 2026
    • visibility 172
    • 0Komentar

    BANGKEP (30/05/2026), tatandak.id – Masyarakat Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) mengeluhkan tidak adanya kapal pengganti selama kapal feri yang melayani lintasan Pelabuhan Saiyong-Luwuk menjalani docking. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar satu bulan dan berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi serta mobilitas masyarakat. Sejumlah warga menilai ketiadaan kapal pengganti membuat distribusi hasil bumi keluar daerah mengalami hambatan. […]

  • Muhammad Saleh Gasin: BUMDes sebagai Model Distribusi BBM Berbasis Desa, Jawaban atas Keterbatasan Akses di Bangkep

    Muhammad Saleh Gasin: BUMDes sebagai Model Distribusi BBM Berbasis Desa, Jawaban atas Keterbatasan Akses di Bangkep

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2026
    • visibility 245
    • 0Komentar

    BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Persoalan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menjadi sorotan, terutama setelah muncul berbagai gejolak di masyarakat akibat sulitnya akses dan ketidakteraturan distribusi di lapangan. Menanggapi kondisi tersebut, Advokat dan Akademisi, Muhammad Saleh Gasin, menawarkan pendekatan solusi yang dinilai realistis, terukur, dan sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan, yakni […]

  • Polda Sulteng Ambil Alih Kasus Kematian Riyan Nugraha, Kuasa Hukum Tegaskan Akan Perjuangkan Keadilan Tanpa Kompromi

    Polda Sulteng Ambil Alih Kasus Kematian Riyan Nugraha, Kuasa Hukum Tegaskan Akan Perjuangkan Keadilan Tanpa Kompromi

    • calendar_month Sel, 3 Jun 2025
    • visibility 1.885
    • 0Komentar

    PALU, tatandak.id – Kasus kematian Riyan Nugraha alias Bekam yang meninggal dunia dalam kondisi mencurigakan semakin mendapat perhatian serius. Polda Sulteng akhirnya mengambil alih penanganan kasus ini untuk memastikan proses hukum berjalan dengan transparansi dan profesionalitas. Langkah ini diambil setelah adanya desakan kuat dari keluarga korban dan kuasa hukumnya, yang merasa khawatir adanya potensi konflik […]

  • Muhammad Saleh Gasin: Diskresi Pejabat Bukan Tiket Bebas Melanggar Hukum

    Muhammad Saleh Gasin: Diskresi Pejabat Bukan Tiket Bebas Melanggar Hukum

    • calendar_month Jum, 21 Agu 2026
    • visibility 284
    • 0Komentar

    TATANDAK.ID – Pemahaman mengenai kewenangan diskresi pejabat pemerintahan perlu terus diberikan kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam melihat ruang kewenangan yang dimiliki oleh pejabat publik. Diskresi bukanlah bentuk kebebasan mutlak bagi pejabat untuk bertindak sesuka hati, melainkan instrumen hukum yang memiliki batas, tujuan, serta mekanisme pertanggungjawaban. Hal tersebut disampaikan Muhammad Saleh Gasin, S.H., M.H., […]

error: Content is protected !!
expand_less