Israfil Malinggong: Pulau Peling Adalah “Paru-Paru Kehidupan”, Jangan Korbankan Masa Depan Banggai Kepulauan demi Tambang Batu Gamping
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 149
- comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id – Tokoh masyarakat Banggai Kepulauan, Israfil Malinggong, menyuarakan keprihatinannya terhadap rencana pengerukan batu gamping skala besar di Pulau Peling. Dalam pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk melihat kembali kondisi geografis tanah kelahiran mereka dan memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Menurut Israfil Malinggong, para leluhur tidak salah ketika mewariskan tanah Banggai Kepulauan kepada generasi sekarang. Ia mengibaratkan bentuk wilayah Banggai Kepulauan, khususnya Pulau Peling dan gugusannya, sebagai sepasang paru-paru yang diletakkan Tuhan di tengah hamparan lautan.
“Jika diperhatikan dengan baik, Banggai Kepulauan tidak berbentuk seperti batuan mati. Ia menyerupai sepasang paru-paru. Pulau Peling dan gugusannya adalah organ hidup yang menopang kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Israfil menjelaskan bahwa kawasan karst gamping yang terdapat di Pulau Peling memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Karst tersebut berperan sebagai spons alami yang menyaring dan menyimpan air bersih, sehingga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, pertanian, serta ekosistem pesisir.
“Karst gamping di dalamnya merupakan jaringan spons alami yang menyaring air bersih, memastikan napas kehidupan mengalir ke setiap sumur, ke setiap ladang pertanian petani, dan ke setiap muara tempat nelayan mencari makan,” katanya.
Sebagai putra daerah yang telah lama hidup dan menyaksikan perkembangan wilayah tersebut, Israfil mengaku hatinya bergetar setiap kali mendengar kabar mengenai rencana eksploitasi batu gamping dalam skala besar. Ia menilai, menjual batu gamping Pulau Peling demi keuntungan segelintir pihak sama saja dengan membiarkan tanah leluhur dirusak.
“Menjual batu gamping Peling demi keuntungan segelintir orang sama saja dengan mengizinkan orang asing datang, merobek dada tanah leluhur kita, dan menusuk paru-parunya sendiri hingga bocor,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga akan diwariskan kepada generasi mendatang. Menurutnya, ketika sumber mata air mengering dan debu tambang mulai mengepung desa-desa, keuntungan ekonomi yang diperoleh tidak akan mampu menggantikan hilangnya sumber kehidupan.
“Jika paru-paru ini berlubang dan hancur, dengan apa anak cucu kita akan bernapas nanti? Saat mata air mengering dan debu tambang mengepung desa, uang miliaran di kantong para oligarki tidak akan bisa membeli kembali segelas air bersih untuk anak cucu yang kehausan,” ujarnya.
Meski demikian, Israfil menegaskan bahwa dirinya bersama masyarakat tidak menolak kemajuan dan pembangunan daerah. Sebaliknya, mereka berharap kemajuan dapat diwujudkan melalui sektor-sektor yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan.
“Kami tidak anti terhadap kemajuan. Kami justru ingin melihat anak-anak muda Peling maju melalui pertanian yang subur, peternakan yang tangguh, dan pariwisata yang mendunia. Kita bisa makmur tanpa harus menguliti tubuh ibu kandung kita sendiri,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Israfil juga menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan terkait izin pengerukan batu gamping. Ia mengingatkan agar kepentingan politik dan ekonomi jangka pendek tidak mengorbankan masa depan masyarakat Banggai Kepulauan.
“Kepada mereka yang saat ini mengetuk meja-meja kekuasaan, yang sibuk menandatangani izin pengerukan, dan yang menggadaikan masa depan daerah ini demi mahar politik, ingatlah bahwa kalian mungkin bisa menghindar dari hukum manusia, tetapi tidak akan pernah bisa bersembunyi dari kutuk air dan tanah Peling yang kalian khianati,” tegasnya.
Lebih lanjut, Israfil menekankan bahwa tanah Peling merupakan rumah bersama seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun pilihan politik. Karena itu, menurutnya, tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
“Rumah besar ini adalah milik kita bersama, lintas suku, lintas agama, bahkan lintas pilihan politik. Pilihan ada di tangan kita hari ini: ikut merawat paru-paru kehidupan ini atau diam menonton sampai napas terakhir bumi Peling dihentikan oleh mesin-mesin tambang,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Israfil Malinggong mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam gerakan Konggolio Tano Peling (Merawat Tanah Peling). Ia menegaskan bahwa perjuangan menjaga tanah dan lingkungan Pulau Peling bukan semata-mata persoalan politik, melainkan upaya mempertahankan sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
“Karena menjaga tanah ini bukan lagi sekadar urusan politik, tetapi urusan menyambung nyawa,” pungkasnya.
- Penulis: Tatandak.id
- Editor: Tatandak.id

Saat ini belum ada komentar