Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » UMUM » Muhammad Saleh Gasin: Ketika Regulasi Bertemu Realitas, Ini Solusi Konkret Distribusi BBM di Banggai Kepulauan

Muhammad Saleh Gasin: Ketika Regulasi Bertemu Realitas, Ini Solusi Konkret Distribusi BBM di Banggai Kepulauan

  • calendar_month Jum, 3 Apr 2026
  • visibility 267
  • comment 0 komentar

BANGGAI KEPULAUAN, tatandak.id Persoalan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan saat ini memasuki fase krusial. Di tengah upaya penertiban oleh pemerintah, muncul dinamika baru di masyarakat yang menunjukkan bahwa persoalan ini tidak sesederhana antara “taat aturan” dan “pelanggaran”.

Advokat dan Akademisi, Muhammad Saleh Gasin, menilai bahwa kondisi yang terjadi saat ini merupakan pertemuan antara regulasi formal dengan realitas sosial masyarakat kepulauan yang kompleks.

“Yang kita hadapi sekarang bukan sekadar pelanggaran distribusi, tapi benturan antara regulasi dengan kondisi riil masyarakat. Kalau ini tidak dipahami secara utuh, maka kebijakan akan selalu menimbulkan masalah baru,” tegasnya.

Menurutnya, regulasi terkait BBM subsidi pada dasarnya sudah jelas, di mana distribusi harus tepat sasaran melalui mekanisme rekomendasi yang dikeluarkan oleh dinas teknis seperti Dinas Perikanan dan Dinas Pertanian.

“Secara hukum, ini sudah benar. Negara harus menjaga agar subsidi tidak salah sasaran,” ujarnya.

Namun persoalan muncul ketika aturan tersebut diterapkan secara kaku di wilayah seperti Banggai Kepulauan.

“Bangkep ini wilayah kepulauan. Banyak masyarakat yang tidak tercatat sebagai nelayan atau petani, tapi faktanya mereka melaut dan berkebun. Bahkan ASN pun ada yang punya kebun dan butuh BBM,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan penyimpangan, melainkan realitas sosial yang wajar di daerah kepulauan dengan sumber penghidupan yang beragam.

“Kalau hanya mengacu pada data administratif, maka banyak masyarakat yang secara nyata membutuhkan justru tidak terakomodir. Di sinilah letak masalahnya,” katanya.

Situasi ini, menurut Saleh, kemudian melahirkan dilema kebijakan yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan hitam-putih.

“Kalau dilonggarkan, berpotensi disalahgunakan. Tapi kalau diperketat tanpa penyesuaian, masyarakat yang benar-benar butuh justru terhambat. Ini dilema nyata,” ujarnya.

Ia menilai bahwa fenomena seperti masyarakat membawa perahu ke SPBU merupakan bentuk respon terhadap sistem yang belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan di lapangan.

“Perahu ke SPBU itu bukan akar masalah, tapi gejala. Itu tanda bahwa sistem distribusi belum adaptif terhadap kondisi wilayah,” tegasnya.

Lebih jauh, Saleh menjelaskan bahwa jika dilihat secara teknis, sistem distribusi BBM di Banggai Kepulauan sebenarnya sangat memungkinkan untuk dikendalikan.

“Dengan hanya tujuh SPBU, ini termasuk sistem yang paling mudah diawasi. Artinya, persoalannya bukan pada kemampuan, tapi pada bagaimana pengendalian itu dijalankan,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia menawarkan pendekatan yang tidak bertentangan dengan regulasi, namun mampu menyesuaikan dengan kondisi riil masyarakat.

“Dalam hukum itu ada tiga prinsip: kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Ketiganya harus berjalan seimbang. Tidak bisa hanya satu yang ditegakkan,” jelasnya.

Salah satu solusi utama yang ia dorong adalah penguatan basis data desa sebagai fondasi distribusi.

“Rekomendasi tetap dari dinas, tapi datanya harus dari desa. Karena desa yang tahu siapa yang benar-benar melaut, siapa yang berkebun, dan siapa yang butuh BBM,” katanya.

Ia menekankan bahwa pendataan ini harus dilakukan secara faktual dan menyeluruh.

“Nama, aktivitas, kebutuhan BBM itu semua harus jelas. Kalau tidak terdata, tidak boleh akses. Ini untuk menjaga agar tetap tepat sasaran,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mendorong agar distribusi BBM di wilayah yang jauh dari SPBU dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“BUMDes harus menjadi satu-satunya jalur distribusi di desa. Satu desa, satu pintu. Ini membuat distribusi lebih tertib dan mudah diawasi,” ujarnya.

Menurutnya, dengan skema tersebut, distribusi tidak lagi bersifat liar dan tidak terkontrol.

“Kalau lewat BUMDes, alurnya jelas, harganya bisa dikendalikan, dan tidak ada lagi permainan di bawah,” katanya.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa penguatan di tingkat desa harus diimbangi dengan pengawasan ketat di SPBU sebagai titik utama distribusi.

“SPBU adalah pintu terakhir. Di sinilah semua harus dikontrol. Transparansi stok, pengawasan langsung, dan pembatasan pembelian harus dijalankan,” ujarnya.

Ia juga mengusulkan langkah sederhana namun efektif, seperti pembatasan pembelian berulang.

“Satu orang satu kali beli per hari. Ini sederhana tapi sangat efektif memutus praktik penimbunan,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya transparansi harga dan stok agar masyarakat bisa ikut mengawasi.

“Kalau semua terbuka, maka ruang untuk penyimpangan akan tertutup dengan sendirinya,” katanya.

Dalam aspek penegakan hukum, Saleh menegaskan bahwa fokus harus pada aktor utama.

“Jangan hanya yang kecil. Kalau mau sistem berubah, yang besar harus disentuh. Cukup satu ditindak serius, efeknya langsung terasa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh solusi yang ditawarkan tidak membutuhkan anggaran besar maupun sistem yang kompleks.

“Ini bukan soal uang, tapi soal ketegasan dan konsistensi. Sistem sudah ada, tinggal dijalankan dengan benar,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Saleh menegaskan bahwa persoalan BBM di Banggai Kepulauan hanya bisa diselesaikan jika kebijakan mampu menjembatani antara aturan dan realitas.

“Regulasi tidak boleh diabaikan, tapi juga tidak boleh menutup mata terhadap kondisi masyarakat. Di situlah kebijakan harus hadir,” ujarnya.

Ia menutup dengan penegasan yang kuat:

“Kalau regulasi dan realitas bisa dipertemukan dengan benar, maka persoalan BBM di Bangkep bukan hanya bisa dikendalikan, tapi bisa diselesaikan secara menyeluruh.”

  • Penulis: Tatandak.id
  • Editor: Tatandak.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apakah Badan Hukum Perkumpulan atau Yayasan Perlu Surat Keterangan Terdaftar (SKT) ?

    Apakah Badan Hukum Perkumpulan atau Yayasan Perlu Surat Keterangan Terdaftar (SKT) ?

    • calendar_month Sab, 31 Mei 2025
    • visibility 3.131
    • 0Komentar

    Oleh: MUHAMMAD SALEH GASIN, S.H., M.H. Banyak pertanyaan muncul seputar kewajiban badan hukum perkumpulan atau yayasan setelah mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Salah satunya adalah: apakah mereka wajib mendaftar dan melaporkan keberadaannya ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau Pemerintah Daerah (Pemda) sesuai Permendagri No. 33 Tahun 2012? Mari kita bahas […]

  • RSUD Trikora Salakan Buka Suara soal Dugaan Malapraktik Kematian Pasien Asal Manggalai

    RSUD Trikora Salakan Buka Suara soal Dugaan Malapraktik Kematian Pasien Asal Manggalai

    • calendar_month Rab, 15 Apr 2026
    • visibility 1.020
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Pihak RSUD Trikora Salakan akhirnya memberikan klarifikasi terkait tudingan malapraktik atas meninggalnya seorang pasien perempuan berusia 27 tahun, asal Desa Manggalai, Kecamatan Tinangkung. Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh pihak rumah sakit pada Rabu sore (15/4/2026). Pasien tersebut sebelumnya diketahui menjalani proses persalinan normal anak kedua di RSUD Trikora Salakan pada Senin (13/4/2026). […]

  • Misteri Kematian Adik Naya, Polres Bangkep Lakukan Autopsi Forensik Usai Ekshumasi

    Misteri Kematian Adik Naya, Polres Bangkep Lakukan Autopsi Forensik Usai Ekshumasi

    • calendar_month Jum, 13 Jun 2025
    • visibility 1.148
    • 0Komentar

    BANGGAI LAUT, tatandai.id — Upaya pengungkapan kasus kematian Hijrah Adriani alias Naya (5), anak perempuan asal Banggai Kepulauan yang ditemukan meninggal secara misterius pada awal Februari 2025, kembali dilanjutkan oleh pihak kepolisian. Jumat (13/6/2025), Polres Banggai Kepulauan melakukan proses ekshumasi atau pembongkaran makam untuk melaksanakan autopsi forensik pertama terhadap jenazah Naya, guna mengungkap penyebab pasti […]

  • Swadaya Warga Totikum Berlanjut: Tiga Desa Kerja Bakti Bersihkan Saluran Air untuk Persiapan Perbaikan Jalan

    Swadaya Warga Totikum Berlanjut: Tiga Desa Kerja Bakti Bersihkan Saluran Air untuk Persiapan Perbaikan Jalan

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • visibility 827
    • 0Komentar

    TOTIKUM, tatandak.id – Upaya perbaikan infrastruktur jalan secara swadaya oleh masyarakat Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan, terus menunjukkan progres yang membanggakan. Pada Jumat pagi, 18 Juli 2025, warga dari tiga desa yakni Salangano, Batang Babasal, dan Sampaka, bersama aparat kepolisian, pemerintah desa, dan pihak sekolah, turun langsung membersihkan saluran air (riol) sebagai bagian dari persiapan […]

  • Aksi IPBK Berbuah Sikap DPRD: Karst Banggai Kepulauan Tak Boleh Dikorbankan

    Aksi IPBK Berbuah Sikap DPRD: Karst Banggai Kepulauan Tak Boleh Dikorbankan

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • visibility 329
    • 0Komentar

    PALU, tatandak.id – Aksi demonstrasi Ikatan Pemuda Banggai Kepulauan (IPBK) Palu, Sulawesi Tengah, terhadap aktivitas pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan mulai membuahkan hasil. Suara penolakan yang disampaikan mahasiswa dan pemuda Banggai Kepulauan di depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tengah mendapat respons serius melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Sulteng pada 28 […]

  • Muhammad Saleh Gasin: Ketika Rekomendasi Berubah Jadi Celah, Mengurai Akar Kusut BBM Subsidi di Banggai Kepulauan

    Muhammad Saleh Gasin: Ketika Rekomendasi Berubah Jadi Celah, Mengurai Akar Kusut BBM Subsidi di Banggai Kepulauan

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2026
    • visibility 168
    • 0Komentar

    BANGKEP, tatandak.id – Persoalan BBM subsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan sudah terlalu lama hadir sebagai keluhan harian masyarakat, tetapi terlalu sedikit hadir sebagai persoalan yang dibedah sampai ke akar-akarnya. Yang tampak di permukaan adalah antrean, jerigen, kelangkaan, dan harga eceran yang melonjak. Namun di bawah permukaan, ada persoalan yang jauh lebih serius yakni lemahnya kontrol, […]

error: Content is protected !!
expand_less